Daging Sapi dan Jantung Lahirkan Dua Guru Besar

MALANG, malangpost.id- Indonesia masih kesulitan memenuhi kebutuhan daging. Data BPS (Badan Pusat Statistik) tahun 2019, terjadi peningkatan impor daging dari Australia. Maka strategi seleksi ternak Ruminansia, melalui pyramidal struktur daging ternak, menjadi solusi.

Melalui metode tersebut, diharapkan menjadi solusi dengan struktur pembagian tugas berpola piramida. Hubungan antara penyedia bibit, lembaga penelitian, kemudian berhubungan. Tujuan utama keberpihakan kepada rakyat.

Ini upaya untuk meningkatkan penyediaan daging menuju ke swasembada. Indonesia harus melaksanakan pembibitan ternak. Khususnya sapi.

“Terjadi kesenjangan antara supply dan demand yang semakin lebar. Diperkirakan akan terus meningkat. Diperlukan upaya cerdas dalam memenuhi permintaan daging secara cepat. Mengingat, siklus reproduksi sapi kita, termasuk lama,” ujar Prof Dr Ir Sucik Maylinda MS.

Perlu struktur yang baik

Keberhasilan pembibitan ternak, merupakan primadona bahan pangan. Sebagai produsen utama peternak rakyat, mendapatkan income yang cukup di kehidupannya.

“Perlu dilakukan seleksi. Program memilih pejantan atau induk yang menghasilkan anak dengan performa seperti yang diinginkan. Peternak rakyat, dengan manajemen tradisional, membutuhkan strategi menghasilkan ternak berbobot tinggi,” lanjutnya.

Penelitian tersebut mengantarkan, Sucik Maylinda, sebagai profesor aktif ke-16 dari Fakultas Peternakan (Fapet), profesor aktif ke-188 dari UB serta profesor ke-268 dari seluruh Profesor yang dihasilkan UB.

Menurunkan angka PJK

Sementara itu, Prof dr Mohammad Saifur Rohman Sp.JP (K) Ph.D, melakukan pendekatan sistematik dan integratif. Dalam rangka menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat Penyakit Jantung Koroner (PJK).

Tingginya PJK, berdampak pada pembiayaan dan kualitas hidup sumber daya manusia usia produktif.

“Penyakit jantung koroner, merupakan masalah kesehatan utama. Tidak hanya di Indonesia, juga di dunia. Diperlukan solusi efektif dan efisien dengan pendekatan berbasis penelitian, pengabdian masyarakat,” ujar Saifur.

Salah satu solusinya: Membentuk kelompok kajian group kardiovaskuler. Terdiri dari multi disiplin ilmu. Berbagai profesi dan keahlian kedokteran. Dilakukanlah penelitian

Terintegrasi. Mulai preventif, kuratif dan rehabilitatif PJK.

“Pastinya, kecepatan dalam penangangan kasus PJK, termasuk sangat penting. Jika terjadi keluhan, penanganan harus secepatnya. Barpacu dengan waktu,” lanjutnya.

Riset ini mengantarkan Mohammad Saifur Rohman, sebagai profesor aktif ke 11 dari Fakultas Kedokteran (FK), profesor aktif ke 189 di UB dan ke-267 dari seluruh profesor yang telah dihasilkan UB.

Mereka masing-masing dikukuhkan sebagai guru besar baru dari FK UB dan Fapet UB, di gedung widyaloka, Selasa (27/10) pagi. Penerapan protokol kesehatan pencegahan covid-19 tidak mengurangi substansi prosesi. Justru nampak tertib karena peserta terbatas dan menerapkan jaga jarak. Panitia juga menyediakan wastafel serta handsanitizer. Sehingga pengkuhan ini juga menjadi ajang sosialisasi 3 M sebagai adaptasi kebiasaan baru. (jof/jan)

Bagikan ke sosial media:

Recommended For You

Calya

About the Author: Calya Putri

Pecinta musik dan pastinya juga suka menyanyi. Penulis yang memiliki bintang Sagitarius ini juga menykai K-Pop dan hobi wisata alam terutama pantai. Dunia fashion juga digelutinanya sejak kecil tebukti dari beberapa prestasi yang sering diraih dalam peragaan busana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

close