Lembaga Penelitian UM Gandeng Sanggar Tari Senaputra Malang, Menggali Tarian Zapin Dalam Kontruksi Ruang Budaya Jawa

KAMPUS, Malangpost.id – Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Negeri Malang (LP2M UM) bekerjasama dengan Sanggar Tari Senaputra Malang menggelar workshop bertajuk ‘Tari Zapin Dalam Kontruksi Ruang  Budaya Jawa’.

Acara ini diselenggarakan di Gedung Sanggar Senaputra, Jalan Urip Sumoharjo No 12, Kelurahan Kesatrian,Kecamatan Belimbing, Kota Malang, Minggu (6/6).

Tiga pembicara yang dihadirkan Taufik Hidayat sebagai praktisi seniman kelompok Gambusdari Malang. Tri Brotowibisono seorang seniman tari Jawa Timur. Siti Sofiana selaku koordinator Pelatih Tari Sanggar Senaputra Malang. Ketiganya sepakat membangun wacana Tari Zapin untuk menjadi bagian integral dari budaya Jawa.

Tiga pembicara dihadirkan dalam workshop Tari Zapin

Kegiatan ini bersinergi untuk mengembangkan topik utama kajian penelitian yang berkelanjutan. Serta pengembangan kreativitas seniman tari.

Sehingga para narasumber yang dihadirkan untuk mengorek keberadaan tari Zapin di Malang, dan atau di Jawa Timur pada umumnya.

Baca juga : Seniman Malang Raya Gelar Aksi Kesenian, Mengusung Isu Lingkungan bertemakan ‘Ada Apa Dengan Styrofoam?’

Dr. Robby Hidajat, M.Sn selaku Dosen Seni dan Desain Universitas Negeri Malang sekaligus Ketua Peneliti. Beliau sedang meneliti project sejauh mana Tari Zapin bisa menjadi bagian dari budaya Jawa.

Robby juga menuturkan bahwa Tarian Zapin ini perlu adanya identifikasi. Hal ini dikarenakan, beliau melihat satu ruang dengan budaya Jawa, guna dibuat sampel data kesenian di Jawa Timur.

Diskusi mengenai Tari Zapin dalam Konstruksi Ruang Budaya Jawa

‘’Penelitian ini akan dibuat sampel, guna mengidentifikasi bahwa sejauh mana Tari Zapin ini bisa berkembang di budaya Jawa. Karena jika dilihat secara historisnya Tari Zapin, Melayu juga bagian dari Jawa,’’ ujar Robby.

Robby juga menyampaikan bahwa ini merupakan sebuah potensi untuk menguatkan kesenian etnik Jawa yang sangatlah beragam. Menurutnya Tari Zapin ini dapat di akomodasi dan mampu berkembang secara luar biasa, khususnya di Jawa.

‘’Ini sebuah potensi untuk menguatkan keberagaman kesenian etnik Jawa, dan ternyata Tari Zapin Arab sejauh ini bisa di akomodasi dibudaya Indonesia. Serta mampu melahirkan perkembangan yang sangat luar biasa,’’ imbuhnya.

Bukti Kekuatan Kedua Budaya di Nusantara

Ide kegiatan ini dipicu oleh bukti sejarah dari kekuatan kedua budaya di Nusantara antara Jawa dan Melayu. Menurutnya secara historis kekuatan tarian ini pernah membentuk mentalitas masyarakat Melayu termasuk masyarakat Jawa yang berada di pesisir.

Di Indonesia ada dua jenis tari Zapin, yakni Zapin Arab dan Zapin Melayu. Tari Zapin Arab tumbuh dan berkembang di dalam kelompok-kelompok masyarakat keturunan Arab yang berada di berbagai daerah yang ada di Indonesia.

Sementara Zapin Melayu yang ditumbuhkan oleh para ahli lokal dan disesuaikan dengan lingkungan masyarakatnya. Sebuah tarian yang dibawa oleh pedagang Gujarat untuk dakwah dan membawa agama Islam.

Pewarta : Fanda Yusnia

Bagikan ke sosial media:

Recommended For You

Fanda yusnia

About the Author: Fanda yusnia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

close