Dua Sisi Proses Pembelajaran Jarak Jauh Terkait Pandemi Covid-19

This image has an empty alt attribute; its file name is Banner_Konten_Netwriter_-2.jpg
This image has an empty alt attribute; its file name is Banner_Konten_Ajakan_Netwriter-3.jpg

KUPASEDU, Malangpost.id- Pandemi Covid-19 banyak sektor di Indonesia ini terkena dampaknya. Baik itu disisi sektor ekonomi, sektor pendidikan, sektor wisata dan masih banyak lagi. Salah satu sektor yang paling terkena dampaknya adalah sektor pendidikan. Perubahan secara cepat untuk menyeimbangi situasi dilakukan, yakni dengan merubah metode pembelajaran tatap muka menjadi daring atau online.

Namun tidak dapat dipungkiri, hal ini juga menciptakan berbagai kendala yang mesti dihadapi, diantaranya koneksi, perangkat yang digunakan serta banyak hal lainnya. Hal ini terjadi dikarenakan masih minimnya persiapan. Sudah hampir dua tahun sudah istilah work from home atau study from home sudah tidak asing terdengar. Hal ini dilakukan pasalnya bertujuan untuk memotong rantai penyebaran covid-19.

Banyak lembaga khususnya pendidikan perlu memutar otak agar dapa menjangkau siswanya. Penerapan berbagai sistem daring dilakukan terutama perguruan tinggi dengan menggunakan LMS (Learning Management System). LMS ini sendiri bersifat memudahkan mahasiswa mengakses pelajaran dimana saja dan kapan pun.

Tentu saja instansi pendidikan terus berupaya untuk mengembangkan sistem pembelajaran mereka secara luas dan menggunakan teknologi yang ada. Karena pendidikan merupakan pilar dan tumpuan sebagai daya saing antar manusia. Sebenarnya, sebelum datangnya pandemi pendidikan di Indonesia sudah menerapkankan LMS, tetapi tidak pernah dimaksilmalkan dengan baik. Hingga muncul pandemi, instansi pendidikan mulai gencar-gencarnya menggunakan LMS untuk pembelajaran jarak jauh.

Data Primer dan Sekunder Penelitian Kuantitatif

Adapun penelitian kuantitatif dilakukan terhadap fenomena tersebut. Data yang diperoleh dari penelitian metode kuantitatif berupa angka yang hasil akhirnya akan dianalisis lebih lanjut dalam analisis data. Penelitian ini termasuk causal research, dimana populasi merupakan pelaku atau subjek yang berkaitan dengan proses pembelajaran jarak jauh. Dua data yang dimaksud diantaranya :

  1. Data Primer : Data yang dicari atau dikumpulkan sendiri oleh peneliti secara langsung dari sumber pertama atau subjek atau pelaku yang diteliti oleh peneliti. Dengan begitu informasi yang diperoleh terhindar dari hoaks atau informasi palsu. Langkah yang dapat dilakukan dengan menyebarkan kuesioner kepada sampel atau subjek atau pelaku yang diteliti (pelaku yang melakukan proses pembelajaran jarak jauh) yang ada pada suatu instansi atau sekolah.
  2. Data Sekunder : Data yang telah dikumpulkan atau didapat peneliti secara cepat tanpa bertemu dengan sumber pertama atau subjek atau pelaku yang diteliti oleh peneliti. Dalam penelitian ini yang menjadi sumber data sekunder adalah literatur, artikel, jurnal dan situs dengan sumber yang akurat serta dipercaya di internet yang berkaitan dengan topik penelitian.

E-learning merupakan segala aktivitas belajar yang menggunakan bantuan teknologi elektronik.( Rusman, 2012: 293). Melalui e-learning, pemahaman siswa tentang sebuah materi tidak tergantung pada guru/instruktur tetapi dapat diperoleh dari media elektronik. Teknologi elektronik yang banyak digunakan misalnya internet, intranet, tape video atau audio, penyiaran melalui satelit, televisi interaktif serta CD-ROM (Rusman, 2012: 291). Dapat disimpulkan bahwa E-learning dapat didapatkan dimana saja selama di media elektronik, seperti TV, radio, dan sebagainya.

Seiring berjalannya waktu, E-learning berkembang menjadi web atau yang biasa kita kenal LMS (Learning Management System) dan hampir semua instansi pendidikan mempunyai LMS. Elerning tidak harus menggunakan web atau aplikasi dari kampus, e-learning juga dapat diakses seperti Edmodo, Google Classroom, Zenius, dan sebagainya.

Sisi Positif dan Negatif PJJ

Sisi positif dari mahasiswa, E-Learning sangat membantu dalam proses perkuliahan yang serba online dan bisa mengurangi kontak fisik saat pandemi, serta juga dapat meningkatkan kepekaan siswa ataupun mahasiswa dalam teknologi. Mahasiswa merasa platform yang disediakan oleh lembaga pendidikan sudah dirasa mumpuni dan bisa memperlancar proses pembelajaran jarak jauh.

Kekurangan ataupun sisi negatif saat menggunakan e-Learning adalah mata serta tubuh jadi cepat lelah karena banyaknya tugas dan praktikum. Selain itu memakan banyak kuota atau pulsa jika mahasiswa tidak mempunyai akses wifi. Serta masalah yang tidak bisa dipungkiri adalah masalah jaringan. Karena tidak semua mahasiswa tinggal dikawasan yang bisa menangkap sinyal dengan baik dan itu berdampak bagi pembelajaran jarak jauh.

Pembelajaran daring akan terus dilakukan mengingat belum tuntasnya pandemi covid-19 di Indonesia. Kurangnya sarana dan pra-sarana serta ketidaksiapan teknologi juga menjadi hambatan berlangsungnya pembelajaran secara daring. Sehingga proses belajar mengajar tidak bisa secara 100% seperti pembelajaran secara offline atau tatap muka.

Masalah ini tentunya menuntut instansi terutama pendidikan dan pendidik yang menjadi barisan pertama dalam pendidikan untuk menerapkan proses pembelajaran yang tepat untuk anak didiknya. Tanpa adanya pelatihan awal, dosen atau pengajar merasa asing akan keadaan yang baru ini dan mengharuskan mengajar dari rumah. Kompetensi dosen dalam menguasai teknologi harus mumpuni karena tuntutan.

Dosen harus mahir dalam menguasai teknologi karena berpengaruh terhadap kualitas pembelajaran. Adapun kendala yang paling mendasar yaitu fasilitas yang kurang memadai karena semua proses pembelajaran tergantung pada internet. Dan tidak semua pengajar maupun mahasiswa berada di kawasan yang mudah menangkap sinyal. Selain itu kendala pengeluaran untuk pembelian kuota yang dimana pembelajaran secara daring membutuhkan kuota yang lebih besar daripada biasanya.

Delapan Karakteristik Pembelajaran Daring

Sayekti (2019) mengadaptasi pendapat Tung (2000), bahwa pembelajaran daring memiliki beberapa karakteristik antara lain:

  1. Materi ajar disajikan dalam bentuk teks, grafik dan berbagai elemen multimedia,
  2. Komunikasi dilakukan secara serentak dan tak serentak seperti video conferencing, chats
    rooms, atau discussion forums,
  3. Digunakan untuk belajar pada waktu dan tempat maya,
  4. Dapat digunakan berbagai elemen belajar berbasis CD-ROM, untuk meningkatkan
    komunikasi belajar,
  5. Materi ajar relatif mudah diperbaharui,
  6. Meningkatkan interaksi antara mahasiswa dan fasilitator,
  7. Memungkinkan bentuk komunikasi belajar formal dan informal.
  8. Dapat menggunakan ragam sumber belajar yang luas di internet (Ely Satiyasih Rosali, 2020).
    Pelaksanaan pembelajaran secara daring dianggap kurang ideal. Dikarenakan
    pembelajaran dilakukan secara serentak dan dilakukan dalam satu platform saja seringkali
    mengalami eror. Sehingga komunikasi tidak terjalin dengan baik, dan tak jarang terjadi kesalah
    pahaman antara pengajar dengan mahasiswa.

Bagikan ke sosial media:

Recommended For You

Rizki

About the Author: Rizki Alfi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *