Manfaatkan Sampah Organik, Mahasiswa UMM Lakukan Budidaya Maggot di Desa Tawangsari

This image has an empty alt attribute; its file name is Banner_Konten_Netwriter_-2.jpg
This image has an empty alt attribute; its file name is Banner_Konten_Ajakan_Netwriter-3.jpg

KAMPUS, Malangpost.id – Persoalan pengelolaan sampah masih menjadi masalah pelik bagi Indonesia. Sebab, sebagian besar sampah yang dihasilkan rumah tangga masih bermuara di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), dan belum banyak dimanfaatkan.

Dirjen Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Rosa Vivien Ratnawati, menjelaskan, “Masalah sampah menjadi permasalahan nasional yang memerlukan pengelolaan secara holistic, sistematis dan terintegrasi”.

Menurutnya, pada tahun 2020 KLHK mencatat jumlah timbunan sampah sebesar 67,8 juta ton/tahun yang terdiri dari sampah organik dengan persentase sebesar 57%. Sampah plastik sebesar 15%, sampah kertas sebesar 11%, dan sampah lainnya sebesar 17%. Artinya, ada sekitar 185.753 ton sampah setiap harinya yang dihasilkan oleh sekitar 270 juta penduduk Indonesia. Atau setiap penduduk memproduksi sekitar 0,68 kilogram sampah perhari.

TPA Bantargebang (Foto: PMM UMM)

Lantas bagaimanakah permasalahan sampah yang pelik ini bisa tertangani? Mungkin salah satu hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi volume sampah adalah meningkatkan kesadaran seluruh lapisan masyarakat untuk mengurangi sampah. Namun hal ini kiranya agak begitu sulit untuk terealisasi. Kalaupun bisa, sampah pun juga masih ada dan belum bisa tertangani 100% untuk menjadi barang yang bermafaat.

Budidaya Maggot BSF oleh PMM Universitas Muhammadiyah Malang

Melihat kondisi ini, beberapa mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang melakukan sebuah terobosan guna membantu mengurangi sampah organik. Berawal dari kunjungan ke Desa Tawangsari, yang sebagian besar warganya bertani, sekelompok mahasiswa UMM yang terdiri dari Slamet Rifa’i, Faishol Erikyatna, Rizal Prasdiyanto, Jaka Aditya Wijaya, Diana Wulandari, Devi Sabrina Putri, Siti Mardian Habibah, Safirah Makhrusah Mukin, dan Azizah melihat tumpukan sampah menggunung yang belum tertangani.

Maka dari itu, sekelompok mahasiswa yang sedang menempuh Program Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) Bhaktimu Negeri Universitas Muhammadiyah Malang ini, menggagas pemanfaatan sampah organik melalui budidaya Maggot BSF (Black Soldier Fly).

Koordinator PMM Kelompok 78, Slamet Rifa’i mengatakan, “Tumpukan sampah yang begitu besar, sangatlah mengganggu indra penglihatan dan indra penciuman masyarakat desa Tawangsari. Selain menimbulkan pencemaran lingkungan, timbunan sampah yang menggunung juga dapat menambah produksi gas metana dari sampah. Padahal, seharusnya banyak cara yang bisa dilakukan guna mengurangi sampah organik, salah satunya adalah budidaya Maggot BSF. Terlebih lagi, daerah Tawangsari merupakan area yang menghasilkan sampah organik begitu besar karena mayoritas masyarakatnya adalah petani”.

Hanggar Budidaya Maggot BSF di Dekat TPS Desa Tawangsari

Melalui kerja sama dengan beberapa perangkat desa dan juga petugas TPS desa Tawangsari, kelompok PMM yang beranggotakan sembilan orang ini mendirikan sebuah hanggar budidaya Maggot BSF. Letak hanggar budidaya Maggot BSF ini kebetulan dibangun di dekat TPS desa Tawangsari. Hal ini dilakukan guna mempermudah mobilitas pemanfaatan sampah organik. Selain itu juga tempatnya sangat strategis untuk budidaya Maggot BSF.

Hanggar budidaya Maggot BSF (Foto: PMM UMM)

Tidak hanya hanggar yang dibangun oleh kelompok PMM ini, beberapa peralatan pendukung budidaya Maggot BSF pun mereka buatkan. Dengan peralatan seadanya, kelompok ini membuat beberapa rak dan juga beberapa baki dari bambu dan beberapa balok kayu guna peralatan pedukung budidaya ini. Tak lupa juga, kelompok ini memberikan pengarahan kepada petugas TPS terkait proses budidaya Maggot BSF ini.

“Budidaya Maggot BSF ini merupakan salah satu inovasi yang dapat membantu dalam penyelesaian permasalahan lingkungan (sampah). Selain itu, budidaya ini nantinya memiliki potensi dalam meningkatkan pendapatan desa itu sendiri. Jadi, harapannya ke depan, desa Tawangsari bisa menjadi desa yang lebih mandiri lagi”. Ucap salah satu koordinator PMM kelompok 78, Diana.

Seperti kita ketahui, Maggot BSF dapat membantu penguraian sampah secara alami. Dimana Maggot BSF dapat mempercepat proses pengomposan atau pembusukan sampah organik. Selain itu, Maggot BSF juga bisa menjadi pakan ternak yang berprotein tinggi dan memiliki potensi pasar yang bernilai ekonomi tinggi karena pengembangannya yang masih rendah.

Salah satu peternak Maggot BSF di kota Malang mengatakan, “Permintaan Maggot BSF untuk pakan ternak di kota Malang saat ini tinggi sekali. Namun permintaan yang tinggi ini, tidak bisa diimbangi dengan produksi Maggot BSF di kota ini yang masih minim peternak Maggot BSF”.

Bahan Baku Pakan Alternatif Ternak Teristimewa

Maggot BSF, merupakan bahan baku pakan alternatif ternak yang sangat istimewa. Maggot BSF ini mengandung nutrient yang lengkap untuk beberapa ternak dan memiliki kualitas yang baik. Selain itu juga, Maggot BSF ini bisa diproduksi dalam waktu singkat. Kurang lebih 12-18 hari, Maggot BSF ini sudah bisa dipanen dan juga siap diedarkan dipasaran untuk menjadi pakan ternak.

“Budidaya Maggot BSF ini hanya salah satu dari banyak cara untuk membantu mengurangi sampah yang ada di desa Tawangsari. Sebenarnya ada banyak cara yang masih bisa diupayakan untuk mewujudkan lingkungan desa yang bersih. Yang terpenting, masyarakat dan desa harus bisa berkolaborasi dan juga menjaga konsistensi dalam penanganan sampah ini. Hal ini agar desa Tawangsari nantinya lebih inovatif dan kreatif dalam penanganan sampah di desa,” ujar Slamet diakhir sambutannya dalam acara penutupan PMM

Bagikan ke sosial media:

Recommended For You

Faishol

About the Author: ferikyatna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *