GPAN Malang Jadi Harapan Tingkatkan Literasi Anak di Kota Malang

KOMUNITAS, Malangpost.id – Bagus Budiyantono, Ketua GPAN (Gerakan Perpustakaan Anak Nusantara Malang membagikan cerita kepada tim malangpost awal mulanya didirikannya GPAN. GPAN didirikan oleh Imam Arifai’llah atau yang akrab disapa dengan Imam, ia merasa terpanggil untuk berkontribusi untuk negeri.

Saat itu, Imam mencoba melakukan observasi terkait apa yang diperlukan oleh lingkungan sekitarnya. Hingga akhirnya ia melihat angka literasi anak yang rendah. Tak lama setelahnya, ia terjun dalam dunia literasi anak dan mendirikan Gerakan Perpustakaan Anak Nusantara.

GPAN Regional Malang merupakan wadah yang berisi kumpulan anak muda yang berkomitmen menjadi relawan, untuk meningkatkan literasi anak di Kota Malang. Bagus menjelaskan beberapa program kerja yang saat ini dijalankan oleh GPAN Malang, berupa BOPUS (Bocah Pustaka, ISTANBUK (Istana Buku), dan SEMLIT (Seminar Literasi).

GPAN memiliki sasaran berupa pondok pesantren, panti asuhan, dan lingkungan yang sekiranya banyak ditemukan anak-anak untuk diajak menggalakkan literasi. Bagus menjelaskan timnya memilih tempat sasaran yang benar-benar membutuhkan bantuan untuk meningkatkan literasi.

“Tempat sasaran yang dituju merupakan pondok atau panti yang sekiranya memang belum begitu signifikan perubahannya atau yang masih dalam masa perkembangan,” jelasnya.

Awal mulanya relawan GPAN akan mengadakan ISTANBUK, yang berupa mendirikan mini perpustakaan dengan cara donasi buku-buku beserta raknya di lingkungan yang disasar.

“Kami biasanya mendirikan mini perpus, kemudian meminta izin kepada pihak yang disasar untuk melanjutkan program kerja BOPUS,” jelas Bagus.

BOPUS, Pembelajaran Materi Serta Disertai Praktik

Ia juga menjelaskan program kerja BOPUS yang berupa pembelajaran baik secara materi atau disertai dengan praktik. Namun, biasanya berdasarkan penjelasan Bagus anak-anak lebih menyukai praktik yang diselingi dengan berbagai permainan yang edukatif.

BOPUS akan dilaksanakan di tempat yang sama selama 3 bulan. Kemudian relawan akan mencari tempat sasaran baru yang dirasa butuh bantuan. Setelah program ISTANBUK dan BOPUS berakhir mini perpus akan diserahkan sepenuhnya kepada pengelola tempat sasaran.

Untuk SEMLIT atau seminar literasi merupakan program kerja yang tujukan untuk kepentingan umum. Dalam seminar literasi, tim GPAN mengundang tokoh-tokoh literasi yang dirasa mampu untuk membangkitkan semangat literasi.

“Tokoh yang diundang tidak hanya yang berasal dari praktisi, kemungkinan juga akademisi sehingga semuanya lengkap. Fokus kami juga kepada pemateri yang sudah melakukan aksi seperti yang sudah mendirikan komunitas atau taman baca,” papar Bagus pada tim malangpost.id.

Di era digital yang memudahkan menyebar luaskan informasi membuat kekhawatiran ketua GPAN ini bertambah. Di tengah sekolah daring dan orang tua yang tidak bisa memantau anak-anaknya selama 24 jam penuh. Hal ini memungkinkan siswa atau anak-anak mengakses hal-hal yang memberikan dampak negatif.

Bagus juga berharap GPAN mampu mendampingi anak-anak menjadi karakter yang baik dan menjadi sosok yang bijaksana dalam memilah dan memilih informasi. Sedangkan harapan di dunia literasi, anak-anak bisa menyukai membaca buku sejak sedini mungkin.

“Harapan saya membaca akan membuat seseorang berwawasan luas. Pada intinya jika seseorang memiliki wawasan yang luas ia akan selektif dalam bertindak,” pungkasnya.

Bagikan ke sosial media:

Recommended For You

Rida

About the Author: Rida Bawa Carita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *