Kisah Romansa Cut Nyak Dien dalam Berperang Melawan Belanda

This image has an empty alt attribute; its file name is Banner_Konten_Netwriter_-2.jpg
This image has an empty alt attribute; its file name is Banner_Konten_Ajakan_Netwriter-3.jpg

DIKSAR, Malangpost.id – Cut Nyak Dien mungkin tak asing bagi masyarakat Indonesia. Walaupun masih terdapat beberapa masyarakat awam yang belum mengenal beliau. Cut Nyak Dien adalah salah satu pemimpin wanita yang perjuangannya paling lama dalam catatan kolonial. Beliau juga merupakan pahlawan wanita yang ditakuti oleh Belanda karena kegigihanya dalam memimpin perang dan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia bersama masyarakat Aceh.

Kisah romansa Cut Nyak Dien juga tak kalah menariknya, pada umur 12 tahun beliau dinikahkan dengan Teuku Cek Ibrahim Lamnga putra Uleebalang Lamnga XII. Sayangnya, keduanya harus dipisahkan karena Teuku Cek Ibrahim Lamnga tewas pada 29 Juni 1878 saat berperang melawan Belanda yang menyebabkan Cut Nyak Dien marah besar dan bersumpah akan menghancurkan Belanda. Ia bahkan siap menikahi lelaki yang dapat membantunya membalas kematian suaminya. 

Siapa sangka setelah menjanda dua tahun dan memimpin sendiri pasukan perang, Cut Nyak Dien bertemu seorang lelaki asal Meulaboh bernama Teuku Umar. Kemunculan Teuku Umar sedikit mengejutkan, ia jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Cut Nyak Dien. Bahkan beliau berkata siap menjadi panglima perang dengan syarat Cut Nyak Dien menjadi istrinya. Namun, Cut Nyak Dien menolak mentah – mentah lamaran tersebut. 

Walaupun lamarannya sempat ditolak, Teuku Umar tidak putus asa dalam mendapatkan Cut Nyak Dien. Beliau tetap berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan hati Cut Nyak Dien. Bahkan beliau melakukan sandiwara demi mendapatkan perhatian Cut Nyak Dien.

Teuku Umar melakukan sandiwara ketika Cut Nyak Dien tengah melatih pasukan berpedang. Banyak orang melintas dengan mengangkat tandu yang diatasnya Teuku Umar sedang berpura–pura terluka. Hal ini diperkuat dengan lumuran darah yang terdapat ditubuhnya. 

Cut Nyak Dien yang melihat keadaan Teuku Umar, bertanya-tanya tentang apa yang membuat beliau terluka. Namun, Teuku Umar berkata bahwa lebih baik ia mati karena Cut Nyak Dien menolak cintanya. Dengan pernyataan tersebut, Cut Nyak Dien merasa iba dan akan membahas hal tersebut setelah Teuku Umar sembuh.

Beberapa hari selanjutnya Teuku Umar sembuh dan menagih janji kepada Cut Nyak Dien tentang pernyataannya waktu itu. Karena merasa mempunyai janji, Cut Nyak Dien akhirnya memenuhi janjinya dan merekapun menikah. Dari pernikahan tersebut mereka dikaruniai anak perempuan yang bernama Cut Gambang.

Bersatunya mereka waktu itu, menjadi semangat yang membara bagi rakyat Aceh. Namun setelah melewati peperangan-peperangan hebat, Teuku Umar harus tewas tertembak pada 11 Februari 1899. Cut Nyak Dien harus kembali memimpin perang sendiri. 

Tewasnya Teuku Umar dalam peperangan dan kondisi Cut Nyak Dien yang semakin renta, membuat pasukannya iba dan salah satu anak buahnya melaporkan markasnya kepada Belanda. Mereka tetap berusaha berperang penuh semangat walaupun berhasil digagalkan oleh pasukan Belanda.

Cut Nyak Dien berhasil ditangkap oleh Belanda dan diasingkan di Sumedang, Jawa Barat. Sedangkan anaknya berhasil melarikan diri ke hutan. Di tempat tersebut, Cut Nyak Dien mengajarkan ilmu Agama Seperti Al – Quran hingga akhirnya beliau meninggal pada 6 November 1908.

70 tahun kemudian, pemerintah Indonesia menetapkan Teuku Umar sebagai pahlawan nasional lewat SK Presiden No. 087/TK/1973 tanggal 6 November 1973. Sedangkan istrinya, Cut Nyak Dien sebagai Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden RI Soekarno nomor 106 tahun 1964 tanggal 2 Mei 1964.

Bagikan ke sosial media:

Recommended For You

faizatuzzahra

About the Author: faizatuzzahra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *