Guru Berharap Dapat Kembali Peluk Siswa dengan Hangat

DIKSAR, Malangpost.id – Terhitung sudah sekitar dua bulan ini, Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Insan Permata Malang telah melaksanakan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) Terbatas.

Dengan pembagian kelas yang matang, dan pemenuhan sarana dan prasarana penunjang prokes Covid-19, para siswa sudah mulai bisa beradaptasi dengan tata tertib PTM Terbatas di SDIT Insan Permata.

“Anak-anak kita lihat sudah mulai taat prokes, dan kondisi level PPKM Kota Malang turun, akhirnya anak-anak sepekan masuk dua kali,” tutur Rina Faizah S.Si, Guru SDIT Insan Permata.

Rina menuturkan, sejak pembelajaran online hingga offline seperti sekarang, pihaknya masih tetap melibatkan orang tua dalam proses belajar peserta didik.

Oleh karena itu tiap satu bulan sekali, SDIT Insan Permata menciptakan program Smart Parents bagi orang tua. Program rutin ini dilakukan dengan mendatangkan pemateri parenting kelas nasional.

iklan-dinas-kominfo

“Kita mendidik anak bukan cukup anaknya saja, tapi orang tua juga harus belajar,” paparnya.

Terkait metode belajar yang dilaksanakan, Angger Rakhmatulhuda S.Pd.I menyampaikan, pihaknya kini sedang menyesuaikan kembali. Dari pembelajaran online, menuju pembelajaran campuran (online dan offline).

Kegiatan belajar siswa SDIT Insan Permata (Foto: Ist)

Hal tersebut mengingat, masih ada beberapa orang tua yang belum mengizinkan anaknya untuk mengikuti PTM terbatas di sekolah. Sebab itu, tidak semua siswa bisa mengikuti pembelajaran offline.

Pria yang juga menjadi guru SDIT Insan Permata ini mengaku, telah mendapatkan berbagai upgrading dari sekolah terkait metode pembelajaran.

“Kita tetap mengajar di kelas, sedangkan mereka yang mengikuti pembelajaran online bisa mengikuti via zoom, jadi kita menyediakan kamera saat proses mengajar,” ujar Angger.

Untuk desain pembelajaran yang digunakan sendiri adalah metode ADLX (Active, Deep, Learner, eXperience) dengan pendekatan TERPADU (Telaah, Eksplorasi, Rumuskan, Presentasikan, Aplikasikan, Duniawi dan Ukhrowi).

Disinggung terkait perilaku siswa setelah lama melakukan pembelajaran online, Angger mengaku banyak siswa berubah secara emosional saat pembelajaran offline. Siswa terlihat senang, dengan adanya interaksi secara langsung.

“Apalagi untuk siswa kelas bawah, itu mereka terlihat senang sekali, tapi interaksi tetap menjaga prokes,” imbuhnya.

Angger berharap, mendatang tidak ada lagi rasa khawatir terkait pandemi Covid-19, sehingga tidak ada rasa khawatir untuk memeluk kembali siswa dengan hangat.

“Karena sentuhan dapat memberikan energi positif bagi siswa,” pungkasnya.

Bagikan ke sosial media:

Recommended For You

Wahyu

About the Author: Wahyu Setiawan

Paling hobi jalan-jalan; lebih senang baca novel; suka nonton film bergenre Adventure, Comedy, Horror, Animation, Fantasy & Romance.

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *