Resensi Novel Pulang Karya Tere Liye

RESENSI, Malangpost.id – Novel ini berjudul “Pulang” tulisan Tere Liye yang diterbitkan pada tahun 2015. Novel “Pulang” memberikan kisah petualangan Bujang dengan sudut pandang orang pertama serta alur maju mundur.

Kisah dimulai pada bab pertama dengan adegan pertarungan Bujang melawan babi hutan raksasa. Ia berburu bersama dengan pemburu babi hutan pimpinan Tauke Muda. Saat mereka dihadang raja babi, Bujang dapat mengalahkannya. Hal tersebut membuatnya tidak memiliki rasa takut lagi.

“Aku tidak takut. Jika setiap manusia memiliki lima emosi, yaitu bahagia, sedih, takut, jijik, dan kemarahan, aku hanya memiliki empat emosi. Aku tidak punya rasa takut.” Begitu Tere Liye membuka cerita.

Pada bab-bab selanjutnya, mulailah diperkenalkan tokoh Bujang beserta orang terdekatnya. Bapak Bujang bernama Samad. Ia yang mengalami kelumpuhan itu kemudian diketahui merupakan mantan tukang pukul nomor satu Keluarga Tong.

Mamaknya bernama Midah, ia merupakan putri dari Tuanku Imam, pemuka agama di Pulau Sumatra. Pernikahan kedua insan dari strata dan kultur berbeda itu menyebabkan mereka harus terusir dari kampung, lantas menetap di Talang (semacam kampung) Kawasan Bukit Barisan, Sumatra.

Kejadian melawan babi hutan tersebut menjadi awal kisah Bujang yang pada saat itu berumur 15 tahun. Tauke Muda mengajak Bujang untuk pergi ke kota, namun bapak dan mamak Bujang tidak kuasa untuk melepasnya. Akhirnya dengan berat hati mereka merelakan Bujang untuk pergi ke kota. Sebelum berangkat, mamak menitipkan pesan berharga.

“Berjanjilah kau akan menjaga perutmu (dari makanan dan minuman haram dan kotor) itu, Bujang. Agar…. Agar besok luka, jika hitam seluruh hidupmu, hitam seluruh hatimu, kau tetap punya satu titik yang putih, dan semoga itu berguna. Memanggilmu pulang.”

Kisah Petualangan Bujang Semakin Seru

Dua puluh tahun berlalu, Bujang menjadi pribadi yang sangat mantap. Ia menemui calon presiden terkuat. Memberi peringatan agar tidak mengubah apapun. Tidak mengganggu bisnis keluarga Tong yaitu bisnis  shadow economy (ekonomi bayangan).

“Shadow economy adalah ekonomi yang berjalan di ruang hitam, di bawah meja. Oleh karena itu orang juga menyebutnya black market, underground economy. Kita tidak sedang bicara tentang perdagangan obat-obatan, narkoba, atau prostitusi, judi dan sebagainya. Itu adalah masa lalu shadow economy, ketika mereka menjadi kecoa hitam dan menjijikan dalam sistem ekonomi dunia. Hari ini, kita bicara tentang pencucian uang, perdagangan senjata, transportasi, properti, minyak bumi, valas, pasar modal, retail, teknologi mutakhir, hingga penemuan dunia medis yang tidak ternilai, yang semuanya dikendalikan oleh institusi ekonomi pasar gelap. Kami tidak dikenal oleh masyarakat, tidak terdaftar di pemerintah, dan jelas tak diliput media massa….. Kami berdiri di balik bayangan. Menatap sandiwara kehidupan orang-orang.” begitulah perkataan tokoh utama (Bujang) mengenai shadow economy.

Kemudian alur beralih ke masa lalu dimana saat itu Bujang pertama kali datang ke kota. Di sana, Bujang menemukan banyak teman baru. Salah satunya Basyir, pemuda yang terobsesi menjadi seperti  kesatria penunggang kuda suku Bedouin. Kini jelas apa tujuan Bujang diajak oleh Tauke Muda. Ia akan dilatih seperti bapaknya, menjadi tukang pukul nomor satu Keluarga Tong.

Namun pada waktu itu, bukannya berlatih silat dan beladiri, Bujang diminta belajar “memukuli kertas dengan bulpen” yang dibimbing oleh Frans, guru asal Amerika. Karena merasa bosan, Bujang meminta Tauke Muda menyamakannya dengan teman yang lain, yaitu berlatih beladiri dan ikut operasi.

Kesabaran Tauke Habis dan Menantang Bujang Ikut Ritual Amok

Kesabaran Tauke habis sehingga ia  menantang Bujang ikut ritual amok. Ritual itu simpelnya, satu orang melawan puluhan bahkan ratusan petarung. Jika satu orang tersebut mampu menahan gempuran dalam waktu tertentu, ia menang. Bujang hanya diminta untuk bertahan selama dua puluh menit. Sayangnya Bujang hanya bertahan 19 menit. Ia gagal, sehingga ia tetap harus belajar bersama Frans.

Setelah ritual tersebut, Bujang belajar dari guru bela diri pertamanya Kopong, Komandan tukang pukul Keluarga Tong. Berhari-hari bahkan berbulan-bulan Bujang terus berlatih, dengan keras. Akhirnya Bujang berhasil meng-KO gurunya itu. Itu artinya latihan tinjunya selesai dan harus berganti guru.

Guru selanjutnya bernama Guru Bushi. Ia merupakan salah satu Samurai yang masih tersisa di zaman modern ini. Bersama Guru Bushi Bujang berlatih menggunakan pedang, katana, shuriken, dll Berbulan-bulan Bujang terus berlatih. Hingga tiba saat Guru Bushi mengatakan cukup. Lantas Bujang berlatih dengan Salonga. Seorang penembak jitu asal Filipina. Dengan guru menembaknya tersebut, Bujang juga belajar filosofi hidup. Selain berlatih beladiri, Bujang juga terus melanjutkan sekolah. Ia bahkan mengenyam pendidikan magister di luar negeri.

Cerita yang beralur maju mundur ini terus mengajak pembaca untuk menikmati keseruan cerita. Pertarungan demi pertarungan banyak dikisahkan pada novel ini. Juga perihal ekspansi Keluarga Tong yang perlahan merangkak naik level dari penguasa shadow economy tingkat provinsi menjadi penguasa shadow economy nasional bahkan internasional. Perjalanan kisahnya pun juga tak luput dari kejadian yang tak terduga.

Novel yang Sangat Seru untuk Dibaca

Novel ini memiliki kisah yang sangat menarik untuk dibaca. Secara perlahan, pembaca akan mengerti perjalanan kehidupan Bujang setelah pergi ke kota. Juga terdapat unsur religius dan kepahlawanan yang tampak dalam kisah yang diangkat novel “Pulang” ini.

Kelebihan dari novel garapan Tere Liye ini diantaranya memiliki tema yang unik, yaitu menghubungkan permasalahan ekonomi dengan dunia tukang pukul. Lalu plot yang disajikan juga memiliki keseruan tersendiri bagi pembaca. Serta tak lupa pesan moral yang kuat akan cukup banyak didapatkan pada novel ini.

Kekurangannya adalah terletak pada beberapa bagian terkesan seperti film. Beberapa bagian yang menceritakan pertarungan tokoh akan terkesan seperti sedang melihat film aksi. Ingatan yang sedikit merusak kedalaman fantasi-imajinasi. Namun hal tersebut sebenarnya sah-sah saja bagi penulis untuk menarasikan beberapa cuplikan film, mengingat masih banyak kejutan dan adegan hebat yang disuguhkan.

Novel ini cocok dibaca bagi siapapun yang ingin membacanya. Terlebih untuk orang-orang yang ingin memahami arti pulang sesungguhnya. Bukan hanya sekedar pulang ke kampung halaman, namun pulang kembali kepada-Nya dalam kedamaian.

Bagikan ke sosial media:

Recommended For You

Muhammad

About the Author: Muhammad Hafizh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *