Bincang Bisnis dan Ekonomi : Bagaimana Nasib Para Petani Kopi Saat Ini?

FEATURES, malangpost.id – Berbicara tentang bisnis dan ekonomi selama pandemi, kita memang lebih banyak membahas keterpurukan ekonomi negarai. Bahkan, tingkat ekonomi Indonesia sudah berada dalam ancaman resesi. Hal ini karena pertumbuhan ekonomi yang bernilai minus. Lalu zaman pandemi corona ini, bagaimana nasib para pelaku bisnis?

Hampir seluruh sektor usaha mengalami kelumpuhan. Baik UMKM maupun perusahaan masih saja mencari bidang bisnis apa saja yang masih potensial. Apa kamu juga membayangkan nasib para petani? Mereka yang setiap harinya memproduksi bahan pangan untuk kita, bagaimana nasibnya ya?

Dampak Operasional

Secara operasional, petani sangat terkena dampak pandemi. Misalnya saja mereka menjual hasil pertanian ke pasar setiap pagi. Dari yang waktunya 18 jam sehari menjadi hanya 8 atau 9 jam sehari. Otomatis mereka kehilangan kesempatan untuk menjajakan produk mereka.

Nah, dari segi operasional tersebut saja petani sudah rugi. Pembatasan waktu dibukanya pasar menjadi penghambat para pedagang dalam menjual dagangan mereka. Terlebih lagi bagi para petani yang hasil pertaniannya cepat membusuk. Dalam artian, hasil pertanian bukan merupakan barang yang tahan lama.

Sayur-sayuran atau buah-buahan fresh hasil panen memang harus segera dijual. Jangan sampai barang pertanian ini membusuk sebelum terjual. Jika begitu, sudah pasti para petani akan rugi. Dimulai dari jam operasional ini petani sudah dirugikan.

Harga Barang dalam Kacamata Bisnis dan Ekonomi Selama Pandemi

Harga produk pertanian selama pandemi merosot drastis. Contohnya harga yang dulunya mahal, sekarang jadi murah banget. Para petani bingung harus menjual produk mereka dengan cara bagaimana. Sementara pasar masih mematok rendah harga barang yang dulunya saja tinggi.

Akhirnya banyak di antara para petani menjual hasil pertanian kepada para tengkulak. Harga awal sebenarnya sudah murah dan dijual kepada para tengkulak, harga jualnya pun terkesan seadanya. Mereka terpaksa melakukan ini. Karena jika pasar dibatasi dan jarak mereka menuju pasar sangat jauh, hal tersebut justru semakin merugikan mereka.

Harus berkorban dengan harga dan harus menanggung biaya transportasi yang besar. Akhirnya cara tersebut dijalani demi meminimalisasi kerugian yang semakin besar.

Dalam Ranah Bisnis dan Ekonomi, Nasib Para Petani Tergantung Ibukota

Bicara bisnis dan ekonomi, ini Nasib para petani selama pandemi.
Nasib para petani selama pandemi.

Melansir dari catatan Asosiasi Agribisnis Cabai Indoneis, disebutkan bahwa kebutuhan pangan untuk Jakarta mencapai 80 sampai 100 ton setiap hari. Untuk memenuhi kebutuhan pangan khususnya cabai, Jakarta menggantungkan hal ini kepada daerah lain di sekitarnya. Misalnya ibukota banyak meminta subsidi pangan ke Jawa Barat, Jawa Tengah, atau Jawa Timur.  

Akan tetapi, kondisi pandemi virus corona saat ini membuat permintaan cabai menurun. Jumlahnya merosot hingga angka 20-25 ton per hari. Sementara itu petani saat ini mampu memanen cabai 200 ton setiap harinya. Alhasil lonjakan persediaan cabai sangat berbanding terbalik dengan jumlah barang yang diminta. 

Yang dikhawatirkan, petani akan terus merugi. Tapi penurunan permintaan cabai juga tidak bisa ditangani secara teknis. Hal ini karena sebagian besar rumah makan yang tutup selama pandemi. Meeka menekan produksi makanan hingga akhirnya tidak lagi membutuhkan cabai. Lagi-lagi para petani sebagai pemproduksi hasil pertanian mengalami kerugian yang sangat besar. 

Darurat!! Ini yang Harus Dilakukan 

Lembaga asosiasi agribisnis nasional kemudian mengatasi masalah ini dengan mencari jaringan baru. Maksudnya mereka mencari tempat distribusi yang masih potensial untuk jumlah cabai yang sangat banyak. Misalnya asosiasi menggandeng startup untuk bekerja sama dengan tujuan memasarkan hasil pertanian. Namun, cabai ini tidak dijual mahal layaknya harga cabai di pasaran. 

Semestinya cabai ini dijual dengan harga yang lebih murah seperti di pasar tradisional. Meskipun para petani sudah dirugikan dengan menurunnya harga tersebut, tetapi setidaknya cabai dan hasil pertanian mereka tidak mubazir. 

Para pelaku bisnis dan ekonomi sempat bingung mengamati situasi pasar selama pandemi. untuk itu, diperlukan solusi konkret demi mengatasi berbagai bidang. Contoh pentingnya saja tentang hasil panen para petani. jika perlu, segenap lapisan mampu membantu petani dalam memasarkan hasil pertanian mereka.

Dengan begitu, setidaknya cara tersebut bisa meminimalisasi kerugian para petani. Hal lain yang bisa dilakukan adalah tetap menjaga diri demi melindungi diri dari terpapar virus corona. Kesadaran seperti ini penting untuk mengembalikan keadaan. Dan tentunya, untuk memulihkan perekonomian.

Bagikan ke sosial media:

Recommended For You

Ira

About the Author: Ira Gusmiarti

Content writer yang menyukai belajar hal baru. Saat ini mulai membagikan insight menarik melalui tulisan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

close