Stigma Masyarakat Terhadap Pengidap HIV Dan AIDS

KESEHATAN, malangpost.id – Informasi yang salah terhadap penyakit HIV dan AIDS menimbulkan stigma terhadap penderitanya.

Tidak bisa dipungkiri, masih banyak penderita HIV/AIDS (ODHA) yang mengalami diskriminasi dalam kehidupannya karena stigma yang melekat pada mereka. ODHA dianggap membawa  penyakit kotor, mudah menular, dan mematikan.

Stigma negatif ini juga dialami oleh anak dengan HIV/AIDS. Tidak hanya berkembang di masyarakat, namun stigma juga muncul dari beberapa tenaga kesehatan.

Masalah yang seharusnya tidak perlu ada jika saja banyak pihak mengetahui mana mitos dan mana fakta mengenai penyakit ini.

Di sinilah peran organisasi profesi dan tenaga kesehatan untuk mengedukasi masyarakat secara tepat, mulai dari kalangan remaja, mahasiswa, serta pihak-pihak lainnya.

Mengenal HIV dan AIDS

Masih banyak yang mengganggap kalau virus HIV dan penyakit AIDS adalah sama. Perlu diketahui, kalau keduanya memiliki arti yang berbeda.

HIV sendiri adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus yang menyerang dan membunuh sel-sel CD4 atau T dalam sistem imun dalam tubuh. Hal ini menyebabkan kekebalan tubuh seseorang menurun drastis dan tubuhnya tidak mampu melawan infeksi dan penyakit yang umumnya mudah dilawan oleh tubuh.

Virus inilah yang menyebabkan seseorang terkena AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome). Seorang pengidap AIDS adalah orang yang terinfeksi virus HIV yang sangat parah sehingga sel CD4 dalam tubuhnya sangat rendah.

Perlu diingat, orang yang terinfeksi virus HIV belum tentu akan terkena penyakit AIDS. Penyakit AIDS berkembang selama setidaknya 10 tahun saat seseorang mulai terinfeksi HIV yang tidak diobati.

Sebaliknya, pengobatan yang tepat akan membantu memperlambat kerusakan akibat penularan HIV dan penderita HIV bisa tetap sehat hingga puluhan tahun.

Stigma terhadap ODHA

Masih banyak anggapan yang ada dalam masyarakat kalau HIV dan AIDS adalah penyakit ‘kutukan’. Selain itu, ada beberapa stigma yang menempel pada ODHA, seperti berikut ini:

ODHA dianggap pembawa sial

Tidak sedikit, lingkup keluarga dekat dan lingkungan sekitar yang menganggap ODHA sebagai pembawa sial. Akibatnya, mereka memperlakukan ODHA bukan layaknya orang yang sehat.

Ditambah lagi, banyak pengidap HIV dan AIDS yang tidak mau berobat karena stigma buruk yang diberikan orang lain. Sangat penting bagi kita untuk tidak menganggap ODHA sebagai pembawa sial jika bertemu dengan mereka.

Penderita HIV dan AIDS dikucilkan

Mirisnya lagi, masyarakat banyak yang tidak mau menerima kehadiran ODHA, bahkan dalam keluarganya sendiri. Banyak yang masih mengira kalau bersentuhan langsung atau menggunakan peralatan makan yang sama dengan ODHA bisa tertular HIV dan AIDS.

Ada juga yang mengira bisa tertular HIV dari toilet, kolam renang, ataupun ciuman. Kenyataannya, HIV hanya bisa menular melalui transfusi darah atau saat berhubungan intim dengan ODHA.

HIV tidak dapat diobati

Stigma lainnya yang banyak di kalangan masyarakat umum kalau HIV adalah penyakit mematikan dan tidak ada obatnya. Padahal, obat antiretroviral (ARV) disediakan secara gratis oleh pemerintah di fasilitas kesehatan.

Jika seseorang terinfeksi HIV, pasien tidak boleh putus minum HRV. Peluang untuk tetap sehat juga sangat tinggi jika pengobatan dilakukan sejak dini dan secara tepat. Di sisi lain, masih ada juga tenaga kesehatan yang tidak bersahabat, yang menyebabkan ODHA malas berobat ke rumah sakit atau klinik.

Penilaian yang salah terhadap penderita HIV dan AIDS

Selain hal-hal tersebut, ada anggapan kalau sosialisasi mengenai HIV dan pencegahan AIDS mengajak anak muda untuk melakukan hubungan seks. Tidak sedikit juga yang percaya kalau pengobatan alternatif bisa mengobati HIV dan AIDS.

Penyebab stigma terhadap ODHA

Banyak informasi yang salah tentang HIV dan AIDS. Hal inilah yang menimbulkan stigma terhadap mereka yang mengidap penyakit ini. Tidak itu saja, stigma yang salah berdampak dengan adanya diskriminasi terhadap mereka.

Diskriminasi terhadap ODHA diantaranya berupa pengasingan, pengucilan, pemecatan karyawan, hingga ada yang menceraikan pasangan yang berstatus positif HIV.

HIV/AIDS bisa terjadi pada siapa saja. Namun, orang yang melakukan seks bebas tanpa pengaman, menggunakan jarum suntik yang tidak steril, dan anak dengan ibu berstatus positif HIV lebih rentan terhadap penyakit ini.

Begitu juga dengan kurangnya informasi tentang penularan HIV/AIDS. Tentu saja, keduanya tidak menular melalui udara seperti batuk dan bersin, jabatan tangan, pelukan, hingga duduk bersebelahan.

Stigma orang banyak terhadap ODHA harus dihentikan. Mereka berhak untuk bekerja, membangun rumah tangga, serta mendapatkan akses pendidikan, pelayanan kesehatan, dan kehidupan yang layak.

Edukasi terhadap informasi penyakit, penularan, pengobatan, dan pencegahan harus terus digalakkan. Dukungan orang terdekat seperti keluarga, teman, dan kerabat bisa membantu mereka menjalani hidup dengan HIV dan AIDS. Nah, jadi Anda tidak perlu takut saat berdekatan dengan ODHA yah! (ds3)

Bagikan ke sosial media:

Recommended For You

desi3

About the Author: desi3

Seorang 'bibiliophile' yang jatuh cinta dengan Himalaya dan fans berat warna biru.~ travel to fulfill your soul ~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

close