Penyakit Kusta, Kenali Gejala dan Penanganannya

Bertepatan dengan Hari Kusta, anda harus tahu apa itu Kusta                  

KESEHATAN, malangpost.id – Perlu diketahui bahwa Kusta adalah penyakit infeksi bakteri kronis dengan sasaran menyerang jaringan kulit. Selain jaringan kulit juga saraf tepi dan saluran pernapasan. Nama lain dari Kusta adalah Lepra, Hansen atau Morbus Hansen.

Kusta sendiri ditandai dengan adanya rasa lemah atau mati rasa pada tungkai dan kaki. Kemudian diikuti oleh munculnya lesi pada kulit. Kusta disebabkan oleh infeksi bakteri yang dapat menyebar melalui percikan air ludah atau dahak yang keluar dari mulut akibat batuk maupun bersin.

Untuk lebih lanjut, langsung simak saja berikut ini yuk!.

Bagaimana Penyakit Kusta Menular?

Penyakit Kusta dapat menular ke semua orang secara terus menerus dan dalam waktu yang lama. tetapi jangan salah, bakteri penyebab lepra tidak dapat menular ke orang lain secara mudah karena butuh waktu lama untuk berkembang biak di tubuh penderita.

Seperti penjelasan di atas, bahwa Kusta tertular melalui kontak fisik dengan si penderita. Tetapi waktunya lama. Ini yang perlu diingat-ingat. Penyakit ini tidak akan tertular melalui kontak tangan, duduk bersama, atau berhubungan seksual. Kusta juga tidak tertular dari ibu ke janinnya.

Faktor yang bisa meningkatkan risiko seseorang terkena Kusta diantaranya adalah bersentuhan dengan hewan penyebar bakteri Kusta, seperti armadillo atau simpanse, mengunjungi kawasan endemik Kusta, dan memiliki gangguan dalam sistem kekebalan tubuh.

Gejala Lain dari Kusta

Selain pembahasan yang disebutkan di atas, maka ada gejala-gejala atau efek lain yang perlu diperhatikan dan diwaspadadi, diantaranya: Mengalami mati rasa di kulit, suhu, sentuhan, tekanan, atau rasa sakit.

Mati rasa di kulit, termasuk kehilangan kemampuan merasakan suhu, sentuhan, tekanan, atau rasa sakit. Muncul lesi pucat dan berwarna lebih terang dan menebal di kulit. Terdapat pembesaran saraf yang biasa terjadi di siku dan lutut.

Otot mulai melemah, terutama otot bagian kaki dan tangan. Kemudian kehilangan alis maupun bulu mata. Mata menjadi kering dan jarang mengedip kemudian mengalami mimisan. Selain itu hidung juga tersumbat.

Berdasarkan Tingkat Keparahan

Berdasarkan tingkat keparahan gejala, maka Kusta dikelompokkan menjadi 6 jenis, yaitu Intermediate Leprosy, Tuberculoid Leprosy, Borderline Tuberculoid Leprosy, Mid-Borderline Leprosy, Borderline Lepromatous Leprosy, dan Lepromatous Leprosy.

Jika mengalami gejala-gejala di atas, segera lakukan pemeriksaan ke dokter agar penyakit anda tidak berlarut-larut ada. Metode pengobatan utama pada penyakit ini adalah dengan adanya obat antibiotik. Penderita Kusta akan diberi beberapa jenis antibiotik selama 6 bulan.

Bahkan bisa sampai 2 tahun. Jenis, dosis, dan durasi penggunaan antibiotik ini ditentukan berdasarkan kronis tidaknya Kusta yang diidap.contoh antibiotik yang digunakan adalah Rifampicin, Dapsone, Clofazimine, Minocycline, dan Ofloxacin.

Adanya Operasi untuk Kusta

Ternyata ada juga operasi untuk Kusta. Dimana setelah mendapatkan pengobatan berupa antibiotik, maka dilakukan tahap operasi. Tujuannya adalah untuk menormalkan fungsi saraf yang sudah rusak. Kemudian bisa memperbaiki bentuk tubuh penderita yang cacat.

Dapat mengembalikan fungsi anggota tubuh. Pencegahan Kusta bisa dilalui dengan hidup sehat dan jaga jarak terhadap orang yang terkena Kusta. Sampai saat ini belum ada vaksin yang bisa mencegah adanya Kusta. Hanya pada pengobatan yang tepat baru bisa dicegah.

Adanya gerakan terpadu dalam memberikan informasi apapun terkait dengan Kusta sangat perlu untuk mencegah penyakit Kusta masuk ke dalam tubuh. Sehingga masyarakat terwawaskan dengan hal tersebut dan pastinya bisa hati-hati dengan itu.

Nah, itulah penjelasan tentang apa itu Kusta, gejalanya, dan cara penanganannya. Semoga terbantu dan selalu hati-hati. Semoga sukses dan sehat.

Bagikan ke sosial media:

Recommended For You

yuliartiselli

About the Author: yuliartiselli

Cewek dengan bintang Taurus ini suka berpetualang dan menjelajahi dunia maupun Indonesia, apapun itu. Berpetualang mencari jati diri dan jadi diri sendiri. Suka explore sendiri. Dan untuk dunia kepenulisan, dia sudah menggeluti selama 1 tahun lebih sebagai content writer di berbagai proyek.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

close