Kaesang, Felicia, dan Sikap Kita Sebagai Seorang Ibu

Lagi-lagi kisah cinta segitiga, antara berebut jadi mantu presiden atau besan presiden?

NETWRITER, Malangpost.id – Kaesang dan Felicia, drama kisah cinta segitiga yang lagi hot beberapa hari ini. Warganet bertubi-tubi melantunkan pendapat dari mulai hujatan, umpatan, pembelaan, dan berbagai teori lainnya. Nah sebagai salah satu warganet yang juga seorang ibu, di sini kita akan bahas dari segi bagaimana sih seharusnya kita sebagai seorang ibu menyikapi anak yang sedang tersakiti atau patah hati? Apakah kita akan diam saja? Atau justru membelanya habis-habisan dengan berperang di media sosial?

Yuk mari kita bahas pelajaran yang bisa kita petik dari kisah Kaesang Felicia ini dari sudut pandang sebagai seorang ibu.

  • Siap menjalin hubungan berarti siap juga untuk berpisah

Percaya deh, tidak hanya Kaesang dan Feli, setiap kali anakmu berhubungan dengan seseorang, maka kamu juga harus meyakinkan diri padanya bahwa ia harus siap dengan segala yang akan terjadi terutama perpisahan. Yang sudah menikah saja belum tentu langgeng kok, apalagi belum menikah. Dan lagi, perpisahan bukan cuma soal siapa yang meninggalkan siapa, bukan cuma bercerai atau putus, tetapi juga tentang meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya.

Maka, sudah siapkah kita?

  • Membela anak atau membela ego kita sendiri?

Sebagai seorang ibu, siapa sih yang ingin anaknya disakiti? Tentu tidak ada kan? Jujur ketika melihat postingan Mama Feli yang emosi serta menumpahkan segala cuitan dan amarahnya di sosial media, saya rasa itu bukan suatu hal yang bijak yang patut dilakukan oleh seorang ibu. Kalaupun marah pada yang tertuduh menjadi orang ketiga atau merebut Kaesang dari putrinya, setidaknya bisa dibicarakan secara kekeluargaan. Bukan di sosial media. Hal ini selain memperburuk keadaan juga membuat netizen ramai-ramai berspekulasi bahwa sang ibunda justru “ngebet” menjadi besan Presiden meski kenyataannya mungkin tidak seperti itu. 

Akan lebih bijak jika seorang ibu menyemangati anaknya, mengikhlaskan bahwa memang mereka belum berjodoh. Dan terlepas dari siapapun yang akan menjadi besanmu, ya kamu juga harus legowo. Perpisahan bukan akhir dari segalanya kok Bun. Yakinkan anakmu bahwa mungkin Tuhan punya cerita lain di balik cerita tidak menyenangkan yang diberiNya saat ini. Ingat! Laki-laki tidak hanya dia bund! Siapa tahu setelah ini anakmu akan berjodoh dengan anaknya atau cucunya Presiden Amerika Serikat, kan siapa tau?!

  • Anakmu sedang membutuhkan pelukanmu bund, bukan memanas-manasi keadaan

Keadaaan sedang memanas, anakmu sedang sedih sekali. Bisa jadi dirinya tidak mau melakukan apapun tidak mau makan, bekerja, atau bahkan keluar dari kamar. Lalu ketika ia melihat keadaan semakin “panas” karena kamu berkoar-koar di sosial media, apakah itu tidak akan menambah rasa sedihnya? Ayo bund, datangi anakmu dan peluk dia. Ceritakan masa-masa pahit yang pernah kamu jalani saat muda dulu, tentang patah hati, kekecewaan dan pesakitan yang membuatmu bisa sampai ke titik ini. 

Cinta tidak pernah mudah ya bund… Cinta itu melibatkan dua orang tidak bisa hanya satu pihak. Jadi kalau yang satu sudah tidak menginginkan mereka bersama lagi, what should we do? 

  • Buktikan pada sang mantan bahwa anakmu akan baik-baik saja tanpa dia

Beri pengertian pada anakmu bahwa tak ada salahnya melakukan hal-hal sendirian. Nikmati aktifitas itu, ia bisa pergi ke luar atau menonton bioskop dan makan di restoran sendirian. Beri ruang padanya untuk mengobati kesakitannya dengan menyendiri, mungkin itu akan membuatnya berpikir lebih jernih atas apa yang telah terjadi. Bahkan yakinkan dirinya bahwa ia bisa bahagia dan bangkit setelah patah hati.

Jangan lupa juga mulai sekarang minta anakmu mulai membatasi kegiatannya di sosial media, terutama soal kisah percintaannya. Begitu juga denganmu. Apa yang menjadi cuitanmu di sosial media itulah isi kepalamu. Karena 87% yang melihat hanya ingin memuaskan rasa ingin tahu mereka kok dan tidak benar-benar peduli. Sad, but true.

  • Menikah tidak seindah itu, namun juga tidak seburuk itu

Perihal menikah, indahnya hanya tiga hari nak, selebihnya indaaaaaaaaaahhhh banget… *canda indah

Menikah itu tidak hanya soal cinta mencintai, tetapi juga membersamai. Tidak hanya perihal aku dan kamu, tapi aku, kamu, keluarga kita, saudara-saudara kita, sepupu-sepupu kita, ipar-ipar kita, dan semuanya. Jadi, soal cinta dalam pernikahan adalah satu hal, tetapi akan ada seribu satu hal lain yang akan mereka lalui setelahnya. Dan sekali lagi, perpisahan mungkin adalah salah satunya. Jadi, buat apa menangisi seseorang yang bahkan belum menjadi siapa-siapanya kamu? Dia masih orang lain dan selalu akan menjadi orang lain meski sudah menikah denganmu nak.. Dia tidak akan berubah hanya karena menikah denganmu, maka bersyukurlah kamu dipisahkan darinya sekarang, kalau sudah menikah kamu akan menyesal berpuluh-puluh kali lipat dari sekarang.

  • Patah hati itu menangis sekarang, tertawa kemudian

Biarkan itu menjadi pecutan agar anakmu menjadi lebih baik lagi. Dia memang akan menangis saat ini tetapi percayalah dia akan tertawa kemudia, ketika menyadari bahwa memang inilah yang terbaik untuknya. Terus berikan support terbaikmu sebagai seorang ibu dengan mendengarkan keluh kesahnya, atau mengajaknya melakukan hal lain yang belum pernah kalian lakukan bersama sebagai seorang ibu dan anak. Karena kalau anakmu sudah menikah dan dibawa oleh suaminya, hal itu akan mendekati mustahil. Ia akan sibuk dengan dunia dan keluarganya sendiri bund…

Sekarang anakmu akan menangis melihat sang mantan akhirnya menjalin hubungan dengan yang lainnya, tetapi waktu juga akan menggerus rasa sakit itu. Obat patah hati adalah cinta yang baru itu betul, tapi tidak semua. Obatnya adalah waktu.

  • Lebih penting perasaan anakmu daripada rasa malu karena gagal menikahkannya

Saya tahu, pasti rasanya sangat malu apabila kamu sudah gembar gembor akan menikahkan anakmu bahkan sudah bertunangan dan berkumpul keluarga besar namun ternyata semua yang telah direncanakan gagal begitu saja. Tetapi apakah rasa malu itu lebih penting daripada perasaan anakmu saat ini? Dan lagi, apa kamu akan membiarkan anakmu jatuh ke pelukan laki-laki yang maaf “seperti itu”? Kalau saya sih big NO. Saya malah bersyukur anak saya tidak disandingkan dengan laki-laki yang akan mencampakkannya hanya demi wanita lain.

  • Balas dendam terbaik adalah dengan menjadi lebih baik dari dirinya di masa lalu dan terlihat bahagia

Kalau dilihat dari kisah Kaesang, Feli dan Nadia ini, lebih baik jangan membuat sang laki-laki menjadi besar kepala dengan berkoar-koar di sosmed bund, ia akan merasa diperebutkan bukan hanya dua wanita tapi empat wanita. Bersikaplah elegan dan berkelas. Karena balas dendam terbaik adalah membuktikan bahwa kamu dan anakmu akan baik-baik saja tanpa mereka. Menjadi besan orang penting memang penting tetapi lebih penting lagi menjadi orang baik bukan?

  • Jika anakmu laki-laki, maka jangan sembarangan melamar anak orang kalau belum serius

Sebelum membuat anak orang terbang dan melambung tinggi, sebelum memberikan harapan-harapan entah asli atau palsu, kamu sebagai orang tua wajib memastikan dulu beribu-ribu kali, bahwa memang ini yang ia cari. Memang wanita tersebut yang bisa membuat hidupnya terasa lebih mudah saat kelak menjalani pernikahan. Meski nanti ia merasa cocok satu sama lain, namun bagaimana dengan keluarganya. Jika belum ada keyakinan itu, tahan dulu anakmu untuk melamar anak orang daripada menyakitinya kemudian.

So, belajar dari kisah Kaesang dan Felicia ini intinya buanglah ego dan rasa malumu demi anakmu ya bund… Terlepas dari rasa sakit hatimu telah merasa dikhianati oleh calon menantu. Kamu juga sebagai ibu harus bisa melihat dari berbagai kacamata dan pandangan. Tidak hanya dari sisi perasaan dan emosi anakmu saja. Biarkan ia yang meninggalkan anakmu demi wanita lain bahagia dengan wanita tersebut karena wanita berkelas memang harus bersama dengan laki-laki yang berkelas pula.

SEKIAN.

Bagikan ke sosial media:

Recommended For You

Mahya

About the Author: Mahya.shabira

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

close