Sudah Tahu Sejarah Hari Raya Waisak? Cek Informasinya di Sini!

FEATURES, malangpost.id – Berdasarkan kalendar lunar kuno Vesakha, Rabu, 26 Mei 2021, merupakan Hari Raya Waisak ke 2565. Waisak merupakan hari suci agama Buddha yang dirayakan setiap tahun di berbagai negara.

Perayaan Waisak dilakukan pada purnama pertama bulan Mei, dimana umat Buddha memperingati tiga peristiwa, yaitu Trisuci Waisak yang menjadi sejarah perayaan Waisak.

Trisuci Waisak

Lalu, apa saja peristiwa Trisuci Waisak itu? Simak informasinya berikut ini.

1. Lahirnya Pangeran Siddharta

Pangeran Siddharta lahir di Taman Lumbini, Nepal pada tahun 623 Sebelum Masehi (SM) sebagai seorang seorang Boddhisatva (calon Buddha dan seseorang yang akan mencapai kebahagiaan tertinggi). Siddharta adalah putra dari pasangan Raja Sudodhana dan Ratu Mahamaya.

2. Pencapaian Penerangan Agung

Siddharta meninggalkan istana untuk bertapa menjadi Buddha dan mencari kebebasan dari sakit, usia tua, dan mati saat berusia 29 tahun. Saat berumur 35 tahun, Siddharta mencapai Penerangan Sempurna dan menjadi Buddha pada Buddha-Gaya (Bodh Gaya) yang lebih dikebal dengan Buddha Gautama.

3. Pencapaian Parinibbana

Pada 543 SM Buddha Gautama wafat (Parinibbana) di Kusinara pada usia 80 tahun.

Perayaan Hari Raya Waisak

Umat Buddha menganggap Waisak sebagai Hari Buddha atau perayaan ulang tahun Buddha yang menemukan makna hidup.

Pada Hari Raya Waisak, umat Buddha pergi ke vihara dan bersembahyang dengan melakukan ritual puja-bhakti. Saat perayaan ini, Buddhis (sebutan untuk umat Buddha) merenung untuk mengingat kembali ajaran sang Buddha.

Di Indonesia sendiri, Hari Waisak dirayakan di Candi Borobudur, candi Buddha terbesar di dunia. Perayaan ini biasanya terbagi menjadi 3 tahapan, yaitu:

  • Prosesi mengambil air untuk berkat di mata air Jumprit, Kabupaten Temanggung dan menyalakan obor dengan menggunakan sumber api abadi di Mrapen, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah
  • Pelaksanaan ritual Pindapatta atau ritual yang diberikan kepada umat untuk berbuat kebaikan
  • Prosesi Samadhi menjelang puncak bulan purnama dengan menyalakan lilin ke dalam lampion atau lentera yang dilepaskan ke udara secara bersama-sama. Diharapkan dengan pelepasan lampion, doa umat Buddha dapat segera terkabul

Bagikan ke sosial media:

Recommended For You

desi3

About the Author: desi3

Seorang 'bibiliophile' yang jatuh cinta dengan Himalaya dan fans berat warna biru. ~ travel to fulfill your soul ~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

close