GTT : Kami Ingin Dihargai Sebagai Pendidik

FEAUTURES, Malangpost.id – Dalam dunia pendidikan, guru menjadi sosok yang berada di garda terdepan untuk memajukan pendidikan Indonesia. Tugas seorang guru tentu tidak mudah, karena guru bukan hanya memberikan ilmu pengetahuan yang terdapat dalam buku pelajaran.

Tetapi mereka juga dituntut untuk bisa memberikan pendidikan karakter, dan mentransfer nilai-nilai kehidupan kepada anak didiknya.

Fauziah Naniyanti, S.Pd SD merupakan salah satu guru di Kabupaten Malang, yang pada Rabu (18/8) ini berhasil malangpost.id temui di SDN Sitirejo 3 tempat dia mengajar.

Saat ditemui, wanita yang lebih akrab disapa Nani ini terlihat sedang mengerjakan sesuatu, dan segera menyelesaikannya ketika malangpost.id datang.

“Silakan mas, kita bicara di ruang kelas saja ya,” sambutnya seraya berjalan menuju ruang belajar kelas I

Duduk dalam ruang kelas sepi, karena tidak ada kehadiran siswa akibat pemberlakuan sekolah daring, Nani mulai menceritakan pengalaman selama belasan tahun mengabdi bagi pendidikan.

“Saya masuk di SDN Sitirejo 3 ini menjadi guru, sudah sejak tahun 2006 lalu mas. Dulu kondisi sekolah tidak seperti ini. Di sekolah sini banyak anak yatim, anak yang tidak mampu,” ujar Nani mulai bercerita

Tanpa ada satu pun pengalaman mengajar siswa, dia mengaku kaget dengan kondisi siswa didiknya saat itu. Diungkapkan olehnya, banyak siswa yang belum mandi bahkan belum sarapan saat masuk sekolah.

“Itu karena kondisi keluarga, dan banyak sekali saya temui. Namun kondisi ini justru menjadi pendorong saya untuk terus mengabdi,” kata Nani

“Di sisi mental saya benar-benar ditempa, dan saya dipaksa untuk melek,” sambungnya

Dengan tujuan mengikuti jejak sang ayah yang juga seorang guru. Ketika baru lulus dari pendidikannya di perguruan tinggi, Nani diketahui langsung memutuskan menjadi seorang guru.

15 Tahun Mengabdi, Masih Berstatus Honorer

Sayangnya, selama kurang lebih 15 tahun ia mengabdi untuk dunia pendidikan, status Nani belum juga menjadi ASN (Aparatur Sipil Negara), alias masih menjadi Guru Tidak Tetap (Guru Honorer) hingga sekarang.

“Bukan berarti saya tidak pernah ikut tes (CPNS) ya mas, kalau ada tes pasti saya ikuti. Sudah pernah ikut tes, sampai pernah tes ke luar kota juga, tapi belum juga lolos,” ungkap Nani

Status tersebut akhirnya berpengaruh terhadap besaran nominal gaji yang ia terima. Nani menjelaskan, gaji yang diterima awalnya hanya sebesar Rp. 250 ribu per bulan.

Setelah mengabdi selama belasan tahun, gaji yang dirinya terima pun tak kunjung membaik. Mengingat saat ini dia hanya memperoleh gaji sekitar Rp. 750 ribu per bulannya.

Dengan nominal yang bisa dikatakan jauh dari kata cukup, malangpost.id lantas menyinggung motivasi terbesar untuk tetap bertahan dan terus mengabdi bagi pendidikan.

Nani lantas mengaku, alasan yang membuatnya bertahan hingga sekarang, karena dia niatkan mendidik sebagai ibadah. Alasan lain karena dia cinta kepada anak didiknya.

Maka semakin dia mencintai anak didik, selalu akan ada rezeki yang datang kepada keluarganya. Ini tidak lain berkat doa dari semua anak didik tersebut. Setidaknya, hal itu yang sampai sekarang Nani yakini.

“Kunci saya hanya satu mas, yakni cinta. Kalau orang cinta apa pun kondisinya pasti diperjuangkan. Saya tidak tahu, betapa saya ini amat sangat cinta kepada anak didik saya,” tuturnya

Nani juga menekankan, ketika masuk dalam dunia pendidikan jangan fokus mencari uang atau materi. Tapi lebih berfokus mencari cara untuk menebarkan ilmu kepada para anak didik.

“Ya walaupun terkadang manusiawi ya mas, merasa bebannya sama seperti guru PNS. Tapi kenapa rezekinya tidak sama,” jelas Nani

“Mau bagaimana lagi, nasib yang seperti saya ini sangat banyak di luar sana. Bahkan di Indonesia yang kondisinya lebih parah juga banyak, seperti mereka yang sampai masuk-masuk pedalaman,” imbuh Nani

Gaji Lebih Layak Diharapkan Kepada Pemerintah

Untuk semua guru yang sudah lebih dari sepuluh tahun mengabdi bagi dunia pendidikan, Nani berharap pihak pemerintah membantu dengan gaji lebih layak.

Itu mengingat, karena selain mengabdi bagi dunia pendidikan dan ikut serta dalam mencerdaskan anak bangsa. GTT juga memiliki tanggung jawab untuk menghidupi keluarganya masing-masing.

Ia yakin, semua GTT pasti akan senang jika hasil jerih payah untuk pendidikan lebih diperhatikan. Ini bisa dalam bentuk pengangkatan sebagai ASN, sehingga gaji pun akan menjadi lebih baik.

“Sukanya, siswa bisa menjadi obat bagi kita. Tapi sedihnya GTT digaji dengan minim sekali. Walaupun minimnya karena kondisi BOS, jadi siswa sedikit tapi GTT banyak,” tegasnya

“Intinya kami ingin dihargai sebagai pendidik mas, berilah kami selayaknya posisi kami sebagai seorang guru yang mencerdaskan anak bangsa,” tegas Nani

Guru untuk kelas I dan kelas II ini melanjutkan, untuk dunia pendidikan di Indonesia diharapkan lebih mengedepankan pendidikan karakter. Seperti pembentukan akhlak bagi peserta didik.

Itu karena kondisi pandemi. Selain mengubah teknis pembelajaran yang semua dilakukan secara daring, juga berpengaruh terhadap pendidikan karakter yang tidak maksimal.

Sehingga tingkah laku anak menjadi semakin tidak bisa dipantau, akibat minimnya proses tatap muka langsung bersama guru.

“Semoga sekolah bisa secepatnya kembali dibuka, agar kami bisa menyalurkan ilmu kami terutama membentuk akhlak siswa dengan tuntas,” tuturnya

“Akhlak nomor satu, kedua siswa berpacu dengan teknologi,” pungkas Nani mengakhiri.

Harapan Pendidikan Indonesia Berkembang Lebih Baik

Berbeda dengan Nani yang sudah belasan tahun mengabdi untuk pendidikan Indonesia, Indra Kusumawardani merupakan guru yang kini baru dua tahun mengajar di sekolah.

Wanita yang kini menjadi guru Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di SMPN 16 Malang ini menuturkan, masa satu tahun digunakan untuk mengajar di sekolah lama dan satu tahun mengajar di SMPN 16 Malang.

Ditanya alasan dibalik pengabdian menjadi seorang guru, ia berkata bahwa dengan menjadi guru akan selalu mendapatkan ilmu dan pengetahuan baru setiap harinya.

Sebelum pandemi, bertemu dengan siswa setiap hari bisa membawa kebahagiaan tersendiri bagi guru yang akrab disapa Indra ini.

“Kalau sukanya ya ketika para siswa antusias dan mempunyai rasa ingin tahu tinggi dengan apa yang kita ajarkan dan sampaikan ke para siswa,” beber Indra

“Dukanya ketika para siswa sudah mulai merasa bosan dengan pelajarannya,” sambungnya

Indra juga menjelaskan mengenai kesulitan saat awal menjadi guru, kesulitan pertama yang dihadapi adalah beradaptasi dengan lingkungan baru.

Dirinya lantas berharap, pendidikan di Indonesia bisa berkembang dan lebih baik lagi dari sebelumnya. Ini dibuktikan dengan siswa yang bisa lebih kreatif, inovatif dan produktif.

“Untuk guru-guru di Indonesia harapannya semoga lebih bisa dihargai lagi, ada payung hukum yang lebih baik lagi,” tutupnya menyudahi wawancara dengan malangpost.id.

Pewarta : Wahyu Setiawan, Betsy Prajna

Bagikan ke sosial media:

Recommended For You

Wahyu

About the Author: Wahyu Setiawan

Paling suka jalan-jalan; lebih senang baca novel; sering nonton film bergenre Adventure, Comedy, Horror, Animation, Fantasy & Romance; sedang banyak belajar menulis berita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *