Peringati Hari Batik Nasional, KBP menambah Khasanah Motif Batik Khas Malangan

BALAIKOTA, Malangpost.id – Malang menyimpan banyak fakta sejarah, yang dari masa ke masa melahirkan tokoh-tokoh melegenda. Sebut saja Ken Dedes, putri dari Mpu Purwa yang melahirkan keturunan raja-raja besar di Jawa.

Semenjak diperistri Akuwu Tumapel Tunggul Ametung dan Ken Arok Pendiri Kerajaan Singosari, Ken Dedes telah menjadi sumber inspirasi untuk membuat berbagai macam karya.

Sebut saja Kampung Budaya Polowijen (KBP), sebagai satu-satunya kampung tematik di Kota Malang yang paling berdekatan dengan Situs Ken Dedes. Tepatnya berada di Kelurahan Polowijen, Kecamatan Blimbing, menjadikan tokoh Ken Dedes sebagai motif batik.

Memang KBP menjadi kampung budaya di Kota Malang yang aktif melakukan pelestarian seni tradisi dan budaya. Selain tari topeng, tembang macapat, gamelan/karawitan termasuk permainan tradisional, KBP juga mengembangkan kriya batik motif Ken Dedes.

Minggu (2/10/2021) ini, batik tersebut diperingati dalam Festival Batik Ken Dedes Kampung Budaya Polowijen. Motif batik Ken Dedes yang telah di Patenkan KBP, makin memperkuat upaya mengangkat kembali ragam motif batik bernuansa heritage.

“Festival ini untuk menginformasikan bahwa di KBP ini punya motif batik Ken Dedes sebagai batik heritage yang sudah memiliki HAKI,” ujar Titik Nur Fajriyah, Wakil Ketua KBP.

“Kami ingin memunculkan ragam motif bernuansa lokalitas yang bisa diterima oleh masyarakat, karena motif batik yang kami festivalkan ini memang ciri khas tokoh dan legendanya orang Malang,” sambungnya.

Menurut wanita yang juga menjadi guru batik di KBP ini, meski di tengah PPKM Pandemi Covid-19 dan Kota Malang masuk level 3, KBP tidak mengurungkan niatnya untuk menggelar Festival Batik Ken Dedes secara virtual.

Tujuannya agar dapat ditonton oleh pemirsa yang ingin segera berkunjung ke kampung tematik di Kota Malang.

Tidak hanya secara virtual, acara ini juga disiarkan live event di Kampung Budaya Polowijen. Hal ini agar kampung-kampung tematik di Kota Malang dapat dipromosikan kembali sebagai kampung wisata.

Sesi foto bersama di Festival Batik Ken Dedes Kampung Budaya Polowijen.

Harapan Festival Batik Dapat Kukuhkan KBP Menjadi Kampung Wisata Berbasis Budaya

Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Kota Malang, Ida Ayu Made Wahyuni berharap agar Festival Batik Ken Dedes dapat mengukuhkan KBP menjadi kampung wisata berbasis budaya di Kota Malang. Tentu dengan ciri khas seni tradisi, termasuk kriya batik dan tarian topengnya.

“Batik KBP masuk dalam sub sektor ekonomi kreatif yang perlu di dorong untuk menjadikan ciri khas Malangan,” imbuhnya.

Dalam acara virtual event ini, hadir pula Hendrawati perintis batik Singosari yang sudah lama berkolaborasi dengan KBP. Dirinya hadir di studio dan dipandu oleh Ki Demang Penggagas KBP, sekaligus Ketua Forkom Pokdarwis Kota Malang yang mengorganisasi 27 virtual event Kampung Tematik.

Sementara itu, di lokasi KBP saat proses membatik Titik Nur Fajriyah bersama dengan warga KBP, didampingi oleh Yunarsita Penggerak Bengkel Batik Malang di pandu oleh Mouzza Zee.

Festival Batik Ken Dedes dibagi dua segmen, yaitu segmen proses membatik dari awal membuat pola, proses mencanting, membuat warna dan melorot, sehingga menghasilkan batik yang sempurna.

Sedangkan, segmen kedua, dilangsungkan dengan fashion show batik yang diikuti oleh semua warga KBP. Tak ketinggalan di KBP juga dilakukan pameran batik dari pengrajin-pengrajin batik di Malang.

Hendrawati mengaku bahwa motif batik yang ia kembangkan di Singosari sangat bersinggungan dengan motif batik Ken Dedes di KBP.

Sementara itu, Yunarsita merasa bahwa selama keliling di Kota Malang, batik yang paling berkarakter dan bernuansa heritage adalah batik dari KBP.

“Di KBP ini, batiknya paling khas, kalau tidak bertemu motif topeng Malang, pasti bertemu motif Ken Dedes atau Singosari yang diambil dari ornamen-ornamen patung Ken Dedes atau apa yang ada di Candi-candi di Malang ini,” ujar Yunarsita yang juga menjadi Assesor Batik tersertifikasi dari BNSP.

“Jadi KBP ini sangat potensial, untuk mengembangkan batik klasik nuansa Malangan,” pungkasnya.

Sumber : Rilis Pokdarwis Kampung Budaya Polowijen

Bagikan ke sosial media:

Recommended For You

Wahyu

About the Author: Wahyu Setiawan

Paling suka jalan-jalan; lebih senang baca novel; sering nonton film bergenre Adventure, Comedy, Horror, Animation, Fantasy & Romance; sedang banyak belajar menulis berita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *