Mengenal Lebih Dekat Peninggalan Sejarah Kota Batu

BATU, Malangpost.id – Selain wisatanya, Kota Batu juga dikenal dengan kawasan warisan budaya (heritage). Kota Batu menyimpan segudang sisi sejarah yang menarik untuk dikupas.

Ketua Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata Kota Batu, Winarto Ekram menjelaskan saat ini terdapat bangunan-bangunan kolonial yang bersejarah sebagai daya tarik wisatawan.

“Sebenarnya yang paling dianggap bersejarah ini ya bangunan-bangunan sepanjang Jl Panglima Sudirman dan Sidomulya”, ungkap Winarto (8/10)

“Kemudian untuk candi yang termasuk kedalam cagar budaya ini Candi Songgoriti” tambahnya

Winarto melanjutkan, Candi Songgoriti termasuk cagar budaya yang unik dan memiliki misteri tersendiri. Hal ini karena adanya air panas yang bersebelahan dengan air dingin.

Kedua aliran tersebut hanya dipisahkan beberapa sentimeter namun tidak saling mempengaruhi satu sama lain.

Candi Songgoriti. (Foto: Ist)

Candi Songgoriti, lanjutnya dibangun pada era Mpu Sindok. Saat itu ia mengembara mencari tempat baru untuk mengembangkan Mataram Kuno yang ada di Nganjuk.

Akhirnya Mpu Sindok menemukan Kota Batu. Tujuan dibuatnya candi ini adalah untuk sembahyang atau peribadatan, sehingga Candi Songgoriti dinilai memiliki nilai sejarah yang kental.

Selain Candi Songgoriti, penemuan candi lain juga terjadi baru-baru ini di Kota Batu. Yakni Candi Mananjung yang mampu menarik perhatian masyarakat.

“Candi Mananjung masih kita gali terus sejarahnya, sehingga kita tidak lagi menduga-duga,” ungkapnya.

Selain itu, pihaknya kini juga memiliki sekitar 57 arca. Sayangnya, arca-arca tersebut masih dititipkan ke museum Trowulan untuk diamankan.

“Sekitar 57 arca, tapi masih dititipkan ke museum Trowulan. Masih belum dibawa ke Kota Batu, karena di sini masih belum ada museum”, ujarnya.

Winarto menyebutkan penemuan-penemuan sejarah masih sering terjadi. Misalnya penemuan Patung Siwa di tengah sawah, yang saat ini masih disimpan di rumah salah satu kepala desa.

Arca Siwa yang ditemukan di Desa Pendem Kota Batu.

Kemudian penemuan Watu Lumpang yang diletakkan di teras rumah Ketua RW setempat.

Kawasan Kota Batu juga memiliki punden-punden kuno yang jumlahnya terhitung hampir 120. Punden-punden ini dinilai bersejarah yang kemudian didata lagi oleh pihak Dinas Kebudayaan Kota Batu.

Menurut Winarto, semua cagar budaya tidak hanya dilestarikan, tetapi juga dibina, dikembangkan, dan dimanfaatkan. Itu sesuai dengan amanat UU No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

Dari acuan pemanfaatan tersebut, harapannya Kota Batu tidak hanya menjadi tempat wisata buatan dan wisata alam, tetapi juga menjadi wisata budaya.

Sebab itu, guna memajukan wisata budaya Kota Batu, pihaknya telah berupaya untuk menyiapkan pelatihan pemandu wisata budaya.

Selama bertahun-tahun, Winarto mengaku bahwa pihaknya juga telah melakukan pendataan kesenian, bangunan, dan kebudayaan lain yang ada di Batu.

“Kami juga berupaya melakukan renovasi atas bangunan-bangunan tersebut, seperti renovasi Arca Banteng dan pembangunan pendopo untuk ritual warga dan wisata budaya,” pungkasnya.

Bagikan ke sosial media:

Recommended For You

Wahyu

About the Author: Wahyu Setiawan

Paling suka jalan-jalan; lebih senang baca novel; sering nonton film bergenre Adventure, Comedy, Horror, Animation, Fantasy & Romance; sedang banyak belajar menulis berita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *