Fenomena Hoax, Konsekuensi Perkembangan Teknologi

BALAI KOTA, Malangpost.id – Adanya internet membuat teknologi informasi dan komunikasi berkembang dengan sangat pesat. Pada gilirannya, membuat masyarakat lebih mudah dalam melakukan interaksi jarak jauh.

Sayangnya, selain menawarkan berbagai macam kemudahan dalam hal interaksi dan pencarian informasi digital. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, terkadang justru dimanfaatkan untuk hal-hal merugikan dan tidak bertanggung jawab oleh segelintir pihak.

Misalnya dalam penyebaran konten-konten penipuan berbentuk informasi hoax alias bohong. Baik berupa gambar, video, hingga berbagai macam tulisan yang sudah teredit sedemikian rupa.

Sebagaimana data yang berhasil Malangpost.id himpun dari website resmi Kominfo (kominfo.go.id) per Sabtu (19/11/2021). Diketahui, kominfo telah memblokir ribuan konten hoax tentang vaksin Covid-19 dari berbagai platform media digital.

Antara lain Facebook, jumlah konten hoax sebanyak 2236, Instagram 18 konten hoax, Twitter sebanyak 110 konten, Youtube 43 konten, dan di aplikasi TikTok ada 21 konten hoax. Jika ditotal ada sebanyak 2.428 konten hoax terkait vaksin yang sudah ter-takedown.

iklan-dinas-kominfo

Melihat fenomena tersebut, Kepala Diskominfo Kota Malang Muhammad Nur Widianto SSos menyampaikan, fenomena konten hoax tidak hanya terjadi di Kota Malang. Tapi sudah memapar di semua wilayah Indonesia.

“Baik seluruh Kota atau Kabupaten di Indonesia, ini konsekuensi dari perkembangan teknologi yang ada,” ucapnya, Jumat (18/11/2021).

Terlebih berdasarkan hasil riset yang pernah ia baca, penggunaan gadget bagi warga minimal delapan jam sehari. Mulai dari bangun, sampai tidur lagi. Termasuk penggunaan internet yang lebih dari 70 persen, dan akan terus bertambah.

Baca Juga: Diskominfo Dorong Pemanfaatan WiFi untuk Maksimalkan Potensi Wilayah

Artinya, dengan semakin kuat daya guna dan daya pakai internet, serta tools yang digunakan. Seseorang akan semakin mudah dan cepat dalam mendapatkan ragam informasi. Waktu dan tempat juga tidak membatasi Informasi tersebut.

Teknologi yang Tidak diimbangi Literasi Digital Menimbulkan Hoax

Kepala Diskominfo Kota Malang, M Nur Widianto saat menjelaskan soal hoax. (Foto: Wahyu Setiawan/MP.id)

“Tinggal bagaimana kita memanfaatkannya, cuma memang bukan hal yang sederhana. Kemajuan teknologi nampaknya memang belum diikuti dengan literasi digital,” tegas Widi.

Akibat minim literasi digital, orang lebih cenderung untuk cepat menyerap dan langsung melontarkan balik dari pada mengkonfirmasi kebenarannya. Hal itu yang pada akhirnya menjadi pintu tumbuh suburnya disinformasi dan hoax.

“Jika dibandingkan dengan hal-hal yang bersifat positif, formal, dan normatif. Alam bawah sadar seseorang lebih cepat untuk menangkap hal-hal yang bersifat negatif, dan bombastis. Bahkan ada kecenderungan lebih cepat membagikan, meneruskan konten negatif itu,” tegas Widi.

Maka dari itu, menurutnya penting untuk terus menguatkan edukasi dan literasi digital. Untuk Kota Malang sendiri, strategi edukasi konten hoax dilakukan dengan sosialisasi. Baik itu secara mandiri oleh pemerintah daerah, maupun bersifat kolaboratif dengan unsur-unsur stakeholder.

“Hal tersebut memerlukan kesadaran kita, karena konten hoax bagi masyarakat membawa implikasi yang sangat negatif,” tekan Widi.

Baca Juga: Kuatkan Literasi, SMP 4 YPK Jatim Malang Ingin Bentuk Pelajar Pancasila

Kepada Malangpost.id ia menjelaskan, media sosial mestinya bisa merekatkan dan menguatkan keguyuban. Tetapi akibat konten hoax atau disinformasi, pada skala tertentu media sosial akan menjelma menjadi media asosial.

“Kalau media asosial, maka pengguna akan menjadi semakin terpisahkan. Itu pasti rentan. Kalau derajatnya semakin tinggi, kita juga akan mudah terpecah-belah,” tegas Widi.

Tips dan Trik Menangkal Konten Hoax

Demi menghindari hal itu, Widi berbagi tips dan trik untuk menangkap konten hoax. Cara paling sederhana, masyarakat bisa menguji kebenaran informasi secara mandiri melalui media-media mainstream terpercaya.

“Cerna terlebih dulu Informasi yang diterima, lalu cari referensi di media-media lain,” jelas Widi

“Bandingkan informasi yang ada. Nah informasi tersebut muncul atau tidak, di kanal berita media-media yang sudah terverifikasi,” sambungnya.

Kemudian, warga juga harus cermat untuk informasi-informasi yang memiliki tag line atau judul yang bersifat bombastis. Informasi dari konten semacam itu, terkadang cenderung hiperbola.

“Itu justru tidak sesuai dengan faktanya. Maka masyarakat kami harapkan untuk lebih bijak dan cermat. Saya selalu percaya kalau masyarakat kita cerdas,” imbuhnya.

Selain mengkonfirmasi ulang, masyarakat juga bisa memberhentikan konten hoax. Dapat dilakukan dengan tidak ikut mem-viralkan atau menyebarkan.

“Cukup berhenti di kita. Saya juga yakin dan percaya, bahwa rekan-rekan media juga ada di sana. Tentu ini menjadi tantangan, termasuk bagi teman-teman media,” kata Widi.

Terakhir ia berharap, informasi media tidak sampai dikuasai oleh konten-konten hoax. Sehingga masyarakat tetap bisa mendapatkan informasi yang faktual. Mengingat media menjadi sumber rujukan bagi masyarakat dalam mendapatkan informasi.

Bagikan ke sosial media:

Recommended For You

Wahyu

About the Author: Wahyu Setiawan

Paling hobi jalan-jalan; lebih senang baca novel; suka nonton film bergenre Adventure, Comedy, Horror, Animation, Fantasy & Romance.

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *