Bank Indonesia Bidik Perluasan Pengunaan QRIS Capai 12 Juta Merchant di Tahun 2021

This image has an empty alt attribute; its file name is Banner_Konten_Netwriter_-2.jpg
This image has an empty alt attribute; its file name is Banner_Konten_Ajakan_Netwriter-3.jpg

TRENDING, Malangpost.id – Dalam beberapa bulan terakhir, Bank Indonesia menggandeng industri Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran (PJSP) untuk bersinergi dalam mendongkrak perluasan penggunaan QR Code Indonesian Standard (QRIS) melalui target 12 juta merchant di tahun 2021.

Hal tersebut telah dipertegas pada pertemuan yang di langsungkan oleh Bank Indonesia dengan seluruh elemen PJSP pada Rabu (10/1) di Jakarta yang lalu. Komitmen ini dapat dipahami sebagai upaya dalam mendorong program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Terutama pada kondisi pandemi Covid-19 yang masih melanda hingga sekarang.

Adanya kerjasama antara kedua pemangku kepentingan tersebut juga selaras dengan ikhtiar Bank Indonesia. Ikhtiar yang dimaksud, dalam mendukung program Pemerintah melalui Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (Gernas BBI) dan Bangga Berwisata Indonesia (GBWI) bersama dengan pemerintah.

Dengan begitu, kolaborasi segitiga (triangle collaboration) antara BI, Pemerintah, dan PJSP baik pada tingkat pusat maupun daerah akan semakin mengakselerasi transformasi digitalisasi sistem pembayaran di Indonesia menuju arah ekonomi modern yang berkelanjutan.

Dapat diamati bahwa pada tahun 2020, tercatat sebanyak 6 juta merchant tersebar di 34 provinsi di Indonesia. Serta sekitar 85% di impelementasikan pada sektor UMKM. Angka ini merupakan tolak ukur dalam pengembangan QRIS kedepannya. Namun, bukan tidak mungkin target 12 juta merchant QRIS di tahun 2021 dapat segera terealisasikan.

Seperti yang kita tahu, QR Code Indonesian Standard (QRIS) yang merupakan terobosan Bank Indonesia bersama dengan Asosiasi Pembayaran Indonesia (ASPI). Terobosan ini memiliki segudang manfaat terutama dalam mewujudkan sistem pembayaran yang efektif dan efisien di Indonesia, tak terkecuali bagi sektor UMKM.

Kehadiran QRIS Diharapkan Mampu Memberikan Kemudahan

Berdasarkan adanya target 12 juta merchant tersebut, kehadiran QRIS diharapkan mampu memberikan kemudahan dan kebermanfaatan bagi para pebisnis. Terutama dalam mengembangkan serta meningkatkan pendapatan usaha.

Melalui slogan QRIS yang berbunyi “UNGGUL”, sektor UMKM dapat lebih praktis melakukan proses transaksi pembayaran tanpa perlu bersusah payah menggunakan uang tunai.

Kendati hal tersebut di dukung pada program 12 juta merchant ini melalui sejumlah langkah peningkatan dan perluasan penggunaan QRIS dilakukan. Hal ini bertujuan dalam mengedukasi masyarakat secara luas tentang penggunaan dan manfaat QRIS. Adapun terobosan terbaru yang dilakukan oleh BI bersama ASPI dan PJSP pada masa pandemi Covid, adalah dengan mengembangkan QRIS Tanpa Tatap Muka (QRIS TTM).

Masyarakat cukup meminta gambar QRIS dari merchant yang kemudian dapat disimpan pada galeri smart phone mereka. Apabila ingin bertransaksi, pengguna tinggal mengunggah pada aplikasi pembayaran dengan menuliskan nominal, dan memastikan merchant telah sesuai sebelum memasukkan PIN untuk melakukan pembayaran. Dengan adanya QRIS TTM ini masyarakat dapat berbelanja tanpa harus bertemu terlebih dahulu. Serta tidak perlu khawatir dalam bertransaksi di saat pandemi.

Berpotensi dalam Pemulihan Ekonomi

Melalui kemudahan yang dapat dirasakan oleh setiap masyarakat, baik itu konsumen maupun merchant mengakibatkan tingkat pertumbuhan QRIS. Hal ini diharapkan dapat mengalami peningkatan setiap tahunnya dan juga memberikan potensi dalam mendorong pemulihan ekonomi nasional.

Hal ini karena QRIS mampu menciptakan penghematan biaya dalam perekonomian akibat dari turunnya biaya penggunaan uang tunai. Sehingga dapat dialihkan pada kegiatan ekonomi produktif. Tindakan mengenai target 12 juta merchant di tahun 2021 merupakan suatu motif kolaborasi. Kolaborasi yang dimaksud antara Bank Indonesia, PJSP, ASPI, Pemerintah hingga masyarakat dalam menstimulus pertumbuhan ekonomi disaat dan pasca pandemi.

Di lain sisi, BI dan setiap elemen yang terlibat tetap harus mempertimbangkan segala dimensi. Dimensi yang dimaksud baik pada segi hambatan serta bagaimana cara mempertahankan ekspektasi masyarakat. Oleh karenanya, upaya pengambilan peluang dan memitigasi risiko yang mungkin terjadi harus diseimbangkan. Hal ini agar program tersebut mampu mencapai target efisiensi, inklusivitas, dan produktivitas. Melalui fokus khusus pada penggunaan QRIS di era digitalisasi sekarang dalam mendongkrak ekonomi serta keuangan formal secara sustainable.

Bagikan ke sosial media:

Recommended For You

Widya

About the Author: Widya Anjani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

close