Nisa Sabyan, Ketika Anak Menjadi ‘Pelakor’ Siapkah Anda?

Masih muda, cute, karir oke, kenapa harus mau sama suami orang sih?

NETWRITER, Malangpost.id – Nisa Sabyan, siapa yang tak kenal? Paras elok nan manis dengan senyum yang selalu tersungging ini semakin membuat lelaki manapun jatuh hati padanya, apalagi masih single. Siapa yang menolak kalau tiba-tiba didekati Nisa Sabyan?

Tapi bukan itu masalahnya bund, di sini saya tidak akan membahas bagaimana seorang Nisa Sabyan bisa kepincut dengan laki-laki beristri yang notabene adalah suami dari sahabatnya sendiri, atau apa yang dicari dari seorang laki-laki beristri sedangkan di luar sana banyak laki-laki single yang pastinya antri untuk merebut hatinya. Saya hanya akan bahas bagaimana kesiapan kita sekiranya kelak anak Anda melakukan hal-hal yang menurut Anda tidak sesuai dengan standar moral yang masyarakat anut saat ini.

Siapkah Anda jika kelak anak dewasa misalnya ia memilih menjalin hubungan spesial dengan orang yang sama sekali tidak Anda restui seperti halnya yang terjadi pada Nisa Sabyan? Siapkah Anda? Maka lakukan ini agar Anda tidak terlalu kecewa.

1.     Tanamkan pada diri Anda sejak dini bahwa “Anak Bukan Investasi”

Kenapa rata-rata orang tua di dunia selalu berpikir jika kelak punya anak maka kelak ia harus membahagiakan orang tua? Bahagia yang seperti apa yang wajib dilakukan anak untuk membalas jasa orang tua? Bisakah Anda sebagai orang tua mencari kebahagiaan sendiri tanpa menuntut dari anak-anak?

Berbagai pertanyaan tersebut selalu muncul di pikiran saya, kenapa anak-anak saya wajib membahagiakan saya kelak? Apakah sebagai pengganti semua yang telah saya lakukan selama ini untuknya? Padahal anak tidak pernah meminta untuk dilahirkan dari rahim siapapun. Di luar konteks agama yang mewajibkan anak untuk berbakti kepada orang tuanya, juga tidak ada restu Tuhan tanpa restu orang tuanya.  Andalah yang menentukan apakah kelak anak akan berbakti pada Anda atau tidak, restu Anda juga yang menentukan kehidupan anak anda kemudian.

Selaku penulis opini di sini saya belajar ilmu ikhlas. Ikhlas dalam membesarkan dan mendidik anak-anak saya tanpa ‘karena’ melainkan ‘walaupun’.

Bukan “karena dia pintar maka aku mencintai anakku”

Bukan “karena dia anak yang cantik maka aku memberi seluruh hartaku”

Tetapi “walaupun dia tidak pintar, aku tetap mencintai anakku”

Dan “walaupun dia tidak cantik, aku tetap memberi seluruh jiwa dan ragaku”

Jadi, belajar dari kejadian Nissa Sabyan, anak bukan investasi masa depan yang bisa Anda tuntut untuk mengembalikan semua yang telah Anda berikan padanya.

2.     Anak adalah individu sendiri, bukan pengganti kegagalan Anda di masa lampau

Anak  Anda bukan Anda, jadi anak punya hak memilih kehidupannya, Anda hanya berhak mengingatkan bukan mengatur hidupnya. Oke, Anda tentu malu pada dunia ketika menemukan kenyataan bahwa anak Anda misalnya berhubungan dengan suami orang, atau dengan pecandu narkoba, atau mantan narapidana. Tetapi apakah rasa malu Anda mengalahkan rasa cinta Anda pada anak? Tentu tidak bukan?

Maka, yang perlu Anda lakukan adalah cukup menasihati, memberinya pandangan bahwa pilihannya adalah salah. Menjadi orang ketiga dalam hubungan orang lain tidak patut dibenarkan tanpa kecuali dan dengan alasan apapun, mau itu karena saling suka sama suka atau tidak itu tetap salah. Maka ketika Anda sudah memberinya peringatan akan bahaya yang kelak ia terima di masa depan namun ia tetap bersikeras, Anda bisa apa? Terima saja dengan lapang dada semua sanksi sosial yang jatuh kepada anak Anda, itulah  konsekuensi yang harus dihadapinya.  Anda tidak perlu melindunginya lagi, karena ia adalah individu sendiri yang memiliki akal dan bisa berpikir layaknya Anda sendiri.

Baca juga : Kaesang, Felicia, dan Sikap Kita Sebagai Seorang Ibu

3.     Ajarkan arti kehidupan dan cinta pada anak sejak mulai beranjak remaja

Ini yang terpenting, sebisa mungkin jadilah orang tua yang bersahabat dengan anak. Ini akan membuat apapun yang Anda katakan kemungkinan besar akan didengarkan olehnya. Bersahabat bukan berarti tidak tegas ya bund…

Tegas dan otoriter itu berbeda. Jadi, lebih baik sejak dini Anda ajarkan arti cinta padanya, apa itu cinta kepada Tuhan, kepada manusia, kepada makhluk hidup lainnya. Bagaimana seharusnya menyikapi cinta ‘terlarang’, dan semua yang berhubungan dengan cinta. 

4.     Akan selalu ada mantan pasangan, tetapi tidak akan pernah ada mantan anak ataupun orang tua

Kalau sudah terjadi, mau bilang apa? Meskipun Anda usir dia dari rumah, Anda hapus dia dari Kartu Keluarga, dari ahli waris, itu tidak akan mengubah apapun dan tidak akan mengubah status dia sebagai darah daging Anda sendiri.

Jadi sebelum melakukan hal-hal yang hanya akan membuat Anda menyesal, pikirkan lagi sudah siapkah Anda kehilangannya?

5.     Anda bisa memilih untuk tidak memiliki anak, tapi anak tidak bisa memilih untuk tidak dilahirkan

Banyak orang menganggap bahwa memiliki anak adalah suatu prestasi. Tidak punya anak dianggap rendah. Padahal setiap dari kita berhak untuk memilih tidak memiliki anak jika dirasa tidak mampu. Baik dari segi moriil ataupun materiil. Itu adalah keputusan yang lebih bijak dibanding ketika anak lahir Anda dengan jahatnya memaki “aku menyesal melahirkanmu!” atau “dasar anak tidak tahu diuntung!”. Padahal anak tidak pernah meminta untuk dilahirkan oleh Anda. Dan perihal anak bukanlah soal untung dan rugi.

Bila tidak sanggup, Anda boleh memilih untuk tidak punya anak daripada kelak menyakiti anak hanya karena tidak sesuai dengan harapan yang Anda ciptakan sendiri.

Jadi, apakah Anda sudah memiliki jawaban jika kelak anak Anda melakukan hal yang memalukan seperti halnya Nisa Sabyan? Pikirkanlah sejak saat ini dan diskusikan dengan pasanganmu.

SEKIAN

Bagikan ke sosial media:

Recommended For You

Mahya

About the Author: Mahya.shabira

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

close